KISAH YANG TERULANG DI DANAU GALILEA




1.     Bagi yang familiar dengan kisah panggilan Petrus (Luk 5:1-11), kisah mukjizat penangkapan ikan dalam injil hari ini (Yoh. 21:1-19) rasanya seperti déjà vu. Ada pengulangan, seperti pergi menangkap sepanjang malam dan tidak mendapat apa-apa (Luk 5:5, Yoh 21:3), Yesus menyuruh menebarkan jala lagi (Luk 5:4, Yoh 21:6a), terjadinya mukjizat dengan banyaknya ikan yang ditangkap (Luk 5:6, Yoh 21:6b).  

2.     Pengulangan ini menarik untuk direnungkan dengan beberapa alasan:

a.      Para murid ‘yang diminta menunggu di Galilea setelah kebangkitan’ coba-coba kembali ke hidup lama mereka. Mereka mencoba untuk kembali ke ‘mode pabrik’, setelah hidup mereka seutuhnya telah diubah oleh TUHAN, terutama setelah wafat dan kebangkitan-Nya. Seperti yang bisa dibayangkan, “mereka tidak mendapatkan apa-apa”.

b.      Pengulangan ini mengingatkan Petrus pada kisah perjumpaan pertamanya dengan TUHAN, kisah awal yang mengubah seluruh hidupnya. Bagi Petrus, pengulangan ini mengingatkannya akan dua hal: (1) ia tetap Petrus, penjala yang dipanggil TUHAN, (2) ia telah diubah oleh TUHAN, dan kini dia ingat akan hidup baru yang harus dia jalani. Bagian akhir tentang pertanyaan “apakah engkau mengasihi AKU?” adalah pertanyaan yang memastikan hidup baru itu untuk Petrus.

c.       Jika kita perhatikan, posisi Yesus kini berubah. IA ada di pinggir danau, meminta mereka melemparkan jala dan memanggil mereka ke daratan. Sesudah kebangkitan, Yesus tidak lagi bersama mereka secara fisik seperti sebelumnya. Tetapi mereka tetap ingat, Kuasa-Nya tetap dahsyat, seperti yang selalu terjadi, dan IA akan membawa mereka menikmati hidup baru dalam buah kebangkitan.

3.     Apa yang bisa kita renungkan?

a.      Pulang kembali dan coba-coba menyetel hidup ke pola lama setelah dengan susah payah TUHAN menyembuhkan kita hanyalah isapan jempol, sebab kita “tidak mendapat apa-apa”. Di sana hanya ada laut yang kosong, sebab isinya yang menyakitkan telah diambil Tuhan, agar kita tak perlu terbelenggu lagi dengan semuanya itu.

b.      Mengalami kebangkitan harus berjalan bersama ‘kisah perjumpaan kasih yang mengubah’ dengan TUHAN. Dengan itu, kita tahu, TUHAN yang bangkit dan TUHAN yang menjumpai kita dalam hidup, adalah TUHAN yang sama: yang menang dan menyayangi kita, yang bangkit dan terus bersama kita, yang menebus dan mengubah hidup kita.

c.      Setelah disembuhkan, setelah diubah, setelah diselamatkan dan diberi kesempatan baru, majulah. Jangan lagi menoleh, jangan lagi mengulang luka-luka yang tidak perlu, jangan lagi tergoda dengan dosa yang lama. Tidak ada apa-apa di sana.

Lublin-Polandia, 4 Mei 2025

Rm. Valerian Karitas, Pr

Imam Diosesan Keuskupan Ruteng

Komentar

Posting Komentar