Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2025

LUKA DARI CINTA YANG SERIUS

Gambar
1.       Kepada para murid (Yoh. 20:19) dan kemudian kepada Thomas ‘yang tidak percaya’ (Yoh. 20:27), Yesus menunjukkan tangan dan lambung-Nya. Ia memperlihatkan luka-luka, yang menunjukkan bahwa IA benar-benar disalibkan dan dan wafat, dan sekarang benar-benar bangkit. Bagi mereka, bukti ini penting sekali, karena selain menunjukkan bahwa sekarang yang menampakkan diri kepada mereka adalah TUHAN, bukti ini juga menunjukkan, (1) yang disalibkan dan wafat untuk menebus mereka adalah benar-benar Tuhan Yesus (bukan orang lain), dan (2) yang kini hidup adalah Tuhan Yesus (ada bukti luka). 2.       Bagian paling menarik dari kisah ini, adalah ketika yang ditunjukkan Yesus sebagai bukti kebangkitan-Nya, dan yang ‘diperkarakan’ Thomas ketika ragu-ragu, adalah luka . Luka-luka bekas paku, dan terutama luka bekas tikaman tombak yang memastikan kematian-Nya (bdk. Yoh 19:34), adalah bukti tak terbantahkan tentang Yesus yang benar-benar menderi...

GOLGOTA DI HARI SABTU

Gambar
  (hanya membayang-bayang) Ada angin, lembut tapi kering, mencoba mengganggu bersemayamnya butir-butir pasir yang kemarin pasrah diinjak-injak massa. Dengan ringan, mereka memenuhi udara, menari-nari dengan sedih, entah akan mendarat di mana lagi. Tersisa, yang enggan terbang, menggumpal sejalur, menghitam beku bersama darah yang kemarin merah membasahi mereka. Mereka berjejer panjang, mungkin berharap bisa terbang juga menjemput rayuan angin kering, tapi siapa yang bisa menolak bekas gumpal darah? Makin kering, makin menghitam, makin kuat menandai luka-luka yang pernah ada. Beberapa tonjol karang terlihat memutih cerah, bergesekan dengan sandal dan kaki yang berjalan cepat, bersesak-sesakan. Ranting-ranting semak masih patah, layu, menolak bangkit setelah diacak-acak dan diinjak. Setelah kengerian itu, semuanya telah pulang. Hari Sabat. Tidak boleh ada aktivitas. Hari itu, adalah hari TUHAN. Selain desir angin, sepi. Hening, merayap, mencoba sia-sia menjahit luka-luka me...

KASIH PUTIH: MEMBASUH KAKI

Gambar
Kita belajar dari Ekaristi TUHAN tentang cara mencintai : 1.      Kasih Ekaristi mengalir dari Hati yang Putih. -     Dalam Ekaristi, kita memandang hati TUHAN yang putih, Hati yang penuh dengan niat menyelamatkan dan menjaga kita. -       Maka pertanyaan untuk kita setelah Ekaristi, setelah TUHAN ada di hati adalah: seputih apa hatimu? -    Hati putih adalah hati yang bersedia mencintai persaudaraan, mencintai keluarga, mencintai kepercayaan, mencintai perdamaian, mencintai kebenaran, mencintai semua yang bisa menjadikan saudara-saudari dan duniamu makin baik. -       Oleh karena itu, siapapun yang merayakan Ekaristi, seharusnya pulang dengan hati yang putih, seperti hati TUHAN. 2.      Kasih Ekaristi adalah kasih dari hati yang diberi . -        Dalam ekaristi, TUHAN memberi diriNya untuk “hidup” kita. Karena itu, pusat kasih, yang pertama dan utama, ada...