Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2024

SALIB

Gambar
ENGKAU izinkan aku memandangMu dengan rasa yang, entah apa   Aku yang rajin buat luka, ENGKAU yang malah berdarah Aku yang rajin buat salib, ENGKAU malah yang kupaku di sana Aku yang tak bisa jaga diri, ENGKAU yang malah babak belur   ENGKAU tahu, aku seharusnya yang terpaku di situ aku seharusnya yang terluka yang berdarah-darah salahku sendiri   setelah ENGKAU tergantung penuh luka Kau izinkan aku memandang dengan rasa yang, entah apa ENGKAU tahu sulitnya meminta maaf pada orang yang sedang terluka karena kita Mau pergi juga, gara-gara aku, kan?   setelah ENGKAU tergantung penuh luka Kau izinkan aku memandang dengan rasa yang, entah apa Rm. Valerian Karitas, Pr Katedral Ruteng Jumat Agung 2022

Pantang dan Puasa Bukan Diet dan Hemat

Kalau hasil dari pantang dan puasa Prapaskah adalah penurunan berat badan, atau penurunan tekanan darah, kadar kolesterol, dan kadar gula darah, itu namanya diet. Kalau puasa dan pantang bertujuan untuk mengurangi pengeluaran, itu namanya hemat. Lantas, apa yang yang membedakannya dengan puasa dan pantang? Puasa dan pantang itu mesti “ditukar dengan amal baik”. Uang untuk beli daging, misalnya, karena sudah pantang, digunakan untuk membantu korban bencana. Uang untuk makan penuh atau beli rokok, misalnya, karena puasa, disumbangkan untuk anak-anak di panti asuhan.  Kalau mau menemukan damainya berpuasa jenis ini, usahakan untuk melakukannya secara harafiah, seperti gaya anak kecil memasukkan uang ke dalam celengan. Sebagai contoh, ambil uang untuk beli daging hari jumat, dan katakan “ini uang untuk beli daging hari ini”, lalu gunakan untuk perbuatan amal, dan katakan “TUHAN, ini uang untuk beli daging hari ini. Kami sekeluarga kurbankan untuk membantu korban bencana alam di…”....

TANPA KEPALA

Tubuh-tubuh kaku, tanpa kepala, berjalan lunglai, menuju Tuhan.... Kepala-kepala dijejerkan di jalan, di tikungan-tikungan, di rumah-rumah, sambil dititipkan pesan “ berteriaklah sekeras mungkin, KAMI SEDANG BERDOA ”.... Tuhan berdiri bingung di pintu, menyaksikan tubuh-tubuh itu masuk tanpa kepala, tentu saja tak bertegur sapa, tidak tahu letak pintu, meraba langkah sesama yang tak ia kenal, lalu tak jadi masuk... karena tak berkepala Kepala-kepala itu dijejerkan di jalan, di tikungan-tikungan, di rumah-rumah, sambil dititipkan pesan “ berteriaklah sekeras mungkin, KAMI SEDANG BERDOA ”....     Kisol, 24 November 2017 Peringatan St. Andreas Dung Lac, dkk.   Fr. Valerian karitas

MENGAPA SUARA KITA TIDAK BOLEH DIJUAL

  Di Indonesia, ada yang namanya “rahasia umum”, rahasia, yang entah mengapa, umum diketahui. Salah satunya praktik menjual dan membeli suara. Di tengah ramainya pesta demokrasi, slogan “ada uang, ada suara” kembali berkumandang. Politik “membeli suara”, sekaligus “membeli diri” para pemilih menjadi praktik yang umum diketahui meski terus dirahasiakan karena melanggar hukum. Dalam Pemilihan Umum bentuk apapun, suara kita tidak boleh dijual atau dibeli. Mengapa? 1.     Kalau suara kita dibeli, kita bisa membayangkan, bahwa calon pemimpin pasti sekurang-kurangnya kredit di bank untuk beli suara. Bahkan bila orang punya modal sendiri pun (kaya sekali), sulit dibayangkan bahwa dia begitu berbaik hati memberi tanpa “imbalan” . Kalau logika investasi (saya beri sedikit, karena di sana pasti ada banyak untuk diambil) dipakai, maka tidak mungkin calon pemimpin ini berniat memimpin, apalagi memimpin dengan baik. Mereka sebetulnya sedang bersiap-siap mencuri. 2.   ...

MENELISIK SLOGAN PEMILU BERSAMA SUTARDJI CALZOUM BACHRI

  CREDO KATA (SUTARDJI CALZOUM BACHRI) Kata-kata bukanlah alat mengantarkan pengertian. Dia bukan seperti pipa yang menyalurkan air. Kata adalah pengertian itu sendiri. Dia bebas. Kalau diumpamakan dengan kursi, kata adalah kursi itu sendiri dan bukan alat untuk duduk. Kalau diumpamakan dengan pisau, dia adalah pisau itu sendiri dan bukan alat untuk memotong atau menikam. Dalam kesehari-harian kata cenderung dipergunakan sebagai alat untuk menyampaikan pengertian. Dianggap sebagai pesuruh untuk menyampaikan pengertian. Dan dilupakan kedudukannya yang merdeka sebagai pengertian. Dalam puisi saya, saya bebaskan kata-kata dari tradisi lapuk yang membelenggunya seperti kamus dan penjajahan-penjajahan lain seperti moral kata yang dibebankan masyarakat pada kata tertentu dengan dianggap kotor ( obscene ) serta penjajahan gramatika. Bila kata dibebaskan, kreativitas pun dimungkinkan. Karena kata-kata bisa menciptakan dirinya sendiri, bermain dengan dirinya sendiri, dan menen...

ANTONIM

Atas nama Allah, orang jadi setan Atas nama setan, orang jadi allah Atas nama janji, orang ingkar Atas nama ingkar, orang berjanji Atas nama hidup, orang mati Atas nama mati, orang hidup Atas nama benar, orang bersalah Atas nama salah, orang dibenarkan Atas namaMu, Aku mengaku Atas namaKu, KAU menjadi ku Andai saja semesta mengerti Sesak nya memeluk gelap demi terang Kisol, 3 Februari 2018