MENGAPA SUARA KITA TIDAK BOLEH DIJUAL
Di Indonesia,
ada yang namanya “rahasia umum”, rahasia, yang entah mengapa, umum diketahui.
Salah satunya praktik menjual dan membeli suara. Di tengah ramainya pesta
demokrasi, slogan “ada uang, ada suara” kembali berkumandang. Politik “membeli
suara”, sekaligus “membeli diri” para pemilih menjadi praktik yang umum
diketahui meski terus dirahasiakan karena melanggar hukum.
Dalam Pemilihan
Umum bentuk apapun, suara kita tidak boleh dijual atau dibeli. Mengapa?
1. Kalau suara kita dibeli, kita bisa membayangkan,
bahwa calon pemimpin pasti sekurang-kurangnya kredit di bank untuk beli suara. Bahkan
bila orang punya modal sendiri pun (kaya sekali), sulit dibayangkan bahwa
dia begitu berbaik hati memberi tanpa “imbalan”. Kalau logika investasi
(saya beri sedikit, karena di sana pasti ada banyak untuk diambil) dipakai,
maka tidak mungkin calon pemimpin ini berniat memimpin, apalagi memimpin dengan
baik. Mereka sebetulnya sedang bersiap-siap mencuri.
2. Orang yang membeli suara tidak bisa jadi pemimpin.
Uang itu dipakai, karena mereka tidak punya kemampuan untuk bisa menjabat
jadi apapun. Jadi jangan berharap, pemimpin hasil beli suara ini bisa
mendengar atau menyelesaikan masalah anda kalau dia jadi pemimpin.
3. Menjual suara membuat anda kehilangan hak
sebagai rakyat dalam pemerintahan. Jangan pikir tidak ada gunanya pemerintah. Mereka
yang atur harga beras, harga kopi, kemiri, kakao, dan sebagainya. Mereka juga yang atur: jalan,
rumah sakit, listrik, air, dibangun di mana dan kapan. Kalau suara kita dijual,
mereka tidak akan merasa bertanggung jawab terhadap kita.
4. Dalam demokrasi, rakyatlah yang mengendalikan
pemerintah. Kalau suara kita dijual, pemerintahlah yang mengendalikan
rakyat. Kalau pemerintah, ditambah dengan kekuasaan dan uang, mengendalikan
rakyat, maka hampir pasti suara kita tidak akan didengarkan, kita bisa dengan
seenaknya dipindahkan, ditipu, dirampas, dan sebagainya. kalau ditanya, dari
mana pemerintah mulai arogan, ya dari mereka yang suaranya bisa dibeli.
Suara anda tidak gratis. Itu tiket
untuk memastikan anda punya hak atas “kue pembangunan dan kue keadilan”. Kalau punya
hak, anda dipastikan akan tetap dapat uang untuk hidup.
Lublin-Polandia, 6
Februari 2024
Rm. Valerian Karitas, Pr
Komentar
Posting Komentar