BERBAHAGIALAH

(Mat 5:1-12a)

 

 Tuhan Yesus dalam injil hari ini membagi tiga bagian utama dari kualitas orang-orang ‘berbahagia’.

1.     Orang yang ‘mencari dan mengejar’ kebenaran (miskin di hadapan Allah, berdukacita, lemah-lembut, dan disimpulkan dalam frasa ‘lapar dan haus akan kebenaran’). Pada bagian ini, ukuran kebahagiaan sejati adalah mencari dan terus mencari kebenaran.

·       Hati yang berbahagia tidak pernah puas karena ‘yang penting bisa berkecukupan atau kaya, meskipun tidak benar’.

·       Hati yang berbahagia juga ‘tidak dapat terus tinggal dan putus asa dalam dukacita tanpa pergi mencari jalan penghiburan di dalam TUHAN’.

·       Tidak ada sukacita, tentu saja, pada hati yang kasar, sebab tidak ada kebenaran yang ditemukan dalam kebrutalan dan kemarahan. Lembah lembut, tentu saja, berarti ‘jernih melihat jalan, dan tentu saja akan membimbing pada kebenaran’.

·       Yesus menyimpulkan semua jalan hati ini dengan ‘lapar dan haus akan kebenaran’. Hati yang berbahagia tidak pernah berhenti, apalagi kalah dengan kejahatan dan keburukan.

2.     Orang yang ‘bertahan demi kebenaran’ (murah hati, suci hatinya, membawa damai, dan berpuncak pada frasa ‘dianiaya demi kebenaran’).

·       Kebenaran diuji oleh ego dan kesombongan, yang meracuni hati dengan agar jadi ‘pelit’: merasa diri sendiri sebagai satu-satunya hakim yang tidak dapat dibantah. Saat kebenaran menjadi properti pribadi dan bukan prinsip bersama, hati kehilangan kemurahannya.

·       Kebenaran juga diuji oleh godaan menghalalkan segala, kehilangan batas baik – buruk dan benar – salah oleh relasi, kekuasaan, keuntungan dan ketakutan. Saat segala cara, termasuk cara untuk diam dianggap halal, hati kehilangan kesuciannya.

·       Kebenaran juga diuji oleh godaan untuk membagi, menghakimi, membuang, dan meminggirkan. Saat kebenaran bertentangan dengan keadilan, hati digoda untuk menjadikan kebenaran sebagai pemisah yang merusak, bukan lagi menjadi pengadil yang mendamaikan semua. Tentu saja, perjuangan untuk benar selalu berarti perjuangan untuk adil, dan dari situlah damai berasal.

·       Kebenaran juga diuji oleh ancaman, termasuk penganiayaan, cibiran, kebencian, dan kemarahan. Tidak ada kejahatan yang paling nikmat dari jenis-jenis yang memberi keuntungan. Pada jenis-jenis kejahatan ini, kebenaran, dan orang yang membawanya, adalah musuh.

3.     Ganjaran atas hati yang mencari dan menjaga kebenaran ini tidak main-main. Ada ‘empunya kerajaan surga, penghiburan, kepuasan, melihat Allah, dan anak-anak Allah’. Ada jaminan tempat damai, bukan hanya di surga tapi juga di dunia, dalam hidup. Hati yang berbahagia memperjuangkan kebenaran demi damai di bumi sampai kita berjumpa dengan damai abadi di surga.

4.     Jadi, carlahi kebenaran, jagalah hatimu, dan berbahagialah di dalam TUHAN.

 

Lublin -Polandia, 1 Februari 2026 (-210 C)

Rm. Valerian Karitas, Pr

Imam Diosesan Keuskupan Ruteng

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MENGAPA RASA SYUKUR BISA TIDAK ADA DI HATI?

SUDAH (BARU) 5 TAHUN