Berani?
Ketika Yesus
mengatakan, bahwa IA tidak menghapus hukum Taurat, tapi menggenapinya, ada
kenyataan yang berani tapi penting untuk tetap dipegang teguh: kebenaran dan
kasih tidak pernah berubah.
Caranya bisa
saja berubah seturut zaman, seturut selera waktu, atau seturut keadaan, tetapi
tidak pernah dimaksudkan untuk dikurangi atau dikompromikan atau diubah standarnya.
Kebenaran tetaplah kebenaran, kasih tetaplah kasih.
Dari standar
yang tak tergoyahkan ini, Yesus menantang kita, para pengikut-Nya. Pada
batas mana kita berdiri dan memegang teguh prinsip ini? Apakah sekadar ‘agar disebut
baik’?, apakah sekadar agar lepas dari tuntutan dan beban ‘dilihat dan
diperhatikan orang’? Apakah hanya sejauh ‘yang penting sudah berbuat’?
Mari kita bahas empat standar dasar Hukum Taurat yang
oleh Tuhan Yesus katakan ‘tidak cukup hanya sampai di situ (saja)’.
Pertama,
jangan membunuh. Tuhan Yesus menggariskan sesuatu yang lebih tinggi: ‘pembunuhan’
adalah aksi kekerasan yang keji melawan persaudaraan dan hormat atas sesama
manusia. Pengikut-Nya mesti menjaga hatinya dari dua hal: (1) merusak tali kasih
persaudaraan dan (2) ‘membuang’ kedekatan persaudaraan, mulai dari kata-kata
yang diucapkan, seperti merendahkan martabatnya, memaki dan menghinanya, dan
sebagainya. Bagi Tuhan Yesus, ‘membunuh’ dimulai dari rasa tega mengkhianati persaudaraan
kasih.
Kedua, jangan
berzinah. Bagi Tuhan Yesus, perselingkuhan dan zinah tidak pernah serta-merta
datang tanpa alasan, atau sekadar karena tergoda. Ada kegiatan hati yang tidak bisa
(atau tidak pernah) dikontrol dengan baik. Ada hati yang tidak siap mencintai
secara utuh, dan membiarkan mata dan pikirannya yang terus-menerus ‘diizinkan’ mencari
pelampiasan. Bagi pengikut-Nya, Tuhan Yesus memberi pesan yang menusuk: jangan
mempersalahkan kesempatan atau keadaan, apalagi orang, persalahkan hatimu yang
mengizinkannya terjadi. Standarnya jelas: potong semua yang menyesatkan sejak
muncul dan bertumbuh dari hati. Jangan diizinkan tumbuh, apalagi berbuah dalam
perbuatan.
Ketiga, jangan bercerai. Cinta manusia sebenarnya sudah
setua ciptaan, ketika manusia dijadikan, karena itu memutuskan tali kasih yang
dengan bebas dipilih dalam berkat TUHAN adalah pengkhianatan terhadap kesucian
cinta. Bagi Tuhan Yesus, masalahnya bukan hanya tentang ‘janji tertulis’ tetapi
tentang kesatuan hati yang harus dijaga secara utuh. Bagi pengikut-Nya, garis
keutuhan cinta itu jelas, semua yang ‘dilakukan’ di luar kesatuan cinta yang
dijanjikan sendiri di depan TUHAN adalah zinah, entah ketahuan maupun tidak
ketahuan.
Keempat, jangan
sekali-kali bersumpah. Bagi Tuhan Yesus, kelemahan ‘sumpah’ adalah menggunakan
otoritas untuk ‘formalitas’ atau ‘menutup mulut orang’, tapi tanpa intensi
untuk benar-benar berbuat sesuai sumpah yang diucapkannya. Bagi pengikut-Nya,
Tuhan Yesus menerapkan garis yang lebih
tinggi: di dalam iman, batasmu adalah kebenaran. Katakan ‘ya’ jika memang ya
dan ‘tidak’ jika memang tidak. Isi sumpah adalah tambahan terhadap prinsip hati
yang telah tegas sejak dari dalam diri sendiri.
Lublin-Polandia,
15 Februari 2026
RD. Valerian
Karitas
Imam Diosesan
Keuskupan Ruteng

Komentar
Posting Komentar