MENGAPA RASA SYUKUR BISA TIDAK ADA DI HATI?

 


1.     Kesepuluh orang kusta yang disembuhkan Yesus berpisah jalan ketika sudah sembuh; sembilan pergi terus dan satu pulang dan bersyukur. Untuk menelisik dua sikap yang bertolak belakang ini, ada dua hal yang menarik untuk direnungkan:

a.      Kesembuhan mereka berjalan ‘biasa saja’. Tidak ada kata-kata penuh kuasa dari Tuhan Yesus, tidak ada tindakan spektakuler. Hanya ada “Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam-imam." (Luk 17:14), dan mereka menjadi sembuh di tengah jalan. Menariknya, mereka begitu kompak: meminta pertolongan, pergi kepada imam (mereka pergi dalam kondisi kusta, dan berani karena iman mereka pada kuasa Yesus). Ketika kita menderita dan benar-benar butuh pertolongan, kita biasanya kompak, dan jalan yang diberikan selalu diambil dengan penuh iman.

b.     Situasi menjadi berubah ketika mereka sembuh. Tuhan Yesus, yang ‘memprotes karena ‘menghilang’nya kesembilan orang lain, secara lugas melihat ironi yang menarik: yang datang dan bersyukur adalah orang Samaria, ‘orang asing’ (bdk. Luk 17:16,18). Ternyata, bahkan menjadi ‘orang Israel’ (baca=orang beriman) tidak menjadi jaminan, bahwa kita bisa melihat karya ajaib TUHAN yang menyembuhkan. Orang yang dianggap asing dan jauh dari TUHAN justru lebih tahu, Siapa yang menyembuhkannya, dan ia kembali dan bersyukur.

2.    Renungkanlah pertanyaan Tuhan Yesus ini: “Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain dari pada orang asing ini?" (Luk 17:18). Kita, yang mengaku selalu dekat TUHAN, yang selalu berhamburan air mata ketika berdoa meminta pertolongan, yang berkeluh kesah setiap waktu, justru menjadi ‘asing’ ketika berkat dan kesembuhan itu datang.

3.     Mungkin doa kita lebih banyak berpusat pada “saya butuh ini, saya butuh itu, saya mau sembuh, saya mau bebas”, dan kita menjadikan doa seperti memasang taruhan dalam berjudi; tidak peduli siapa adminnya atau seperti apa bandarnya, yang penting saya dapat sesuatu. Kita, yang terlanjur girang ketika doa kita dikabulkan, kehilangan hubungan dengan TUHAN, karena sejak awal, kita memang tak pernah peduli padaNya. Kita hanya mau peduli pada soal kita sendiri.

4.    Akibatnya, kita justru menjadi ‘asing’ lagi saat berkat itu sampai di hati kita. Kita tidak lagi berdoa, sampai persoalan dan tantangan baru datang lagi. Iman yang ‘praktis’ ini menjadikan hati kita sering mudah terombang-ambing: mudah cemas, mood tidak jelas, overthinking, dan sebagainya. Kita kehilangan pegangan untuk berharap dan percaya, karena pusat iman kita adalah persoalan, bukan TUHAN. Masalah dan tantangan memang selalu akan datang, tapi tanpa hati yang tahu Siapa yang menolong, jiwa akan selalu mudah hanyut terbawa irama tantangan.

5.     Kita yang mana: yang sembilan yang ‘dekat’ tapi jadi ‘asing’, atau yang satu yang ‘asing’ tapi jadi ‘dekat’?

Lublin – Polandia, 12 Oktober 2025

RD. Valerian Karitas

Imam Diosesan Keuskupan Ruteng

Komentar