Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2024

WITNESS THE MIRACLES OF GOD

Gambar
(Jn 6:1-15)   The disciples faced an almost impossible problem when Jesus asked Philip: ‘Where shall we buy bread, that these people may eat?’ (Jn 6:5). There were five thousand people, and they must have needed a lot of bread. ‘Two hundred denarii worth of bread would not be enough for these people, even if each of them had a small piece.’ (Jn 6:7). Two hundred denarii! Imagine, a day's labour at that time was one denarius (cf. Mt 20:9). They did not have that much money. Amidst the confusion, Andrew offered a ‘strange solution’ that even he himself doubted. ‘Here is a child who has five barley loaves and two fish; but what does that tell us about this crowd?’ (Jn 6:9). Still, Jesus heard their discussion, ‘agreed’ on what they could provide, and then made them witness a miracle: ‘Then Jesus took the loaves, gave thanks, and distributed them to those who were sitting there; and he also made with the fish as many as they wanted.’ (Jn 6:9). Jesus taught the disciples, and ...

MELIHAT MUKJIZAT TUHAN

Gambar
(Yoh 6:1-15)   Para murid dihadapkan pada persoalan yang nyaris mustahil, ketika Yesus bertanya kepada Filipus:  "Di manakah kita akan membeli roti, supaya mereka ini dapat makan?" (Yoh 6:5). Ada lima ribu orang, dan pasti membutuhkan amat banyak roti. "Roti seharga dua ratus dinar tidak akan cukup untuk mereka ini, sekalipun masing-masing mendapat sepotong kecil saja." (Yoh 6:7). Dua ratus dinar! Bayangkan, upah kerja sehari saat itu adalah satu (1) dinar (bdk. Mat 20:9). Uang sebanyak itu tidak ada pada mereka. Di tengah kebingungan, Andreas menawarkan “solusi aneh” yang juga bahkan diragukan oleh dirinya sendiri. "Di sini ada seorang anak, yang mempunyai lima roti jelai dan dua ikan; tetapi apakah artinya itu untuk orang sebanyak ini?" (Yoh 6:9). Toh, Yesus mendengar diskusi mereka, “menyepakati” apa yang bisa mereka sediakan, lalu membuat mereka menyaksikan mukjizat: “Lalu Yesus mengambil roti itu, mengucap syukur dan membagi-bagikannya kepada...

DIUTUS, APA ARTINYA?

Gambar
(Mrk 6:7-13)   Sebagai utusan TUHAN, kita diutus ke banyak tempat. Ada yang diberkati TUHAN untuk diutus ke rumah, ke tengah keluarga yang TUHAN percayakan kepadanya. Ada yang diberkati TUHAN untuk diutus ke umat, ke tengah kawanan persaudaraan iman yang TUHAN percayakan kepadanya. Ada yang diberkati TUHAN untuk jadi sahabat, jadi rekan kerja, jadi pembimbing, dan sebagainya. Lalu, apa artinya menjadi utusan TUHAN? a.      Menjadi utusan yang dipesankan untuk “jangan membawa apa-apa”. (Mrk 6:8-9) Untuk berkeluarga atau bekerja, atau untuk menjadi terpanggil, kita sering mengagungkan “yang kita bawa”: punya apa dan berapa, belajar dan tahu apa dan berapa banyak, bisa apa. Orang-orang berlomba-lomba mengukur persiapan mereka dengan pertanyaan “punya apa?”. Ketika jatuh cinta, yang pertama ditanyakan adalah “punya apa”. Ketika merasa terpanggil dan siap diutus, yang pertama yang selalu diragukan dari diri adalah “punya apa”. Di satu sisi, persiapan meman...

IRONI NAZARETH

Gambar
  IRONI NAZARETH   Kisah Nazareth menolak Yesus adalah sebuah ironi yang aneh tapi nyata. Ketika kedekatan atau persahabatan mengandaikan semua orang mestinya lebih menerima dan bergembira dalam perjumpaan, Nazareth malah “agak laen”. Ada apa? Apakah kita bisa jatuh menjadi seperti Nazareth juga? a.     Takjub yang aneh. "Dari mana diperoleh-Nya semuanya itu? Hikmat apa pulakah yang diberikan kepada-Nya? Dan mujizat-mujizat yang demikian bagaimanakah dapat diadakan oleh tangan-Nya?” (Mrk 6:2). Orang-orang dekat Yesus menjadi takjub ketika mendengar tentang DIA, tetapi langsung berubah sikap ketika mereka “tahu siapa DIA”. Seorang teman pernah bilang pada saya, “orang yang disebut suci tidak punya masa lalu”. Bagian pertama yang kita bicarakan tentang “orang dekat” adalah masa lalunya. Lapis demi lapis cerita, seperti “kami tahu dia dulu begini dan begitu”, “dia pernah begini dan begitu”, “keluarganya begini dan begitu” dan sebagainya, membuat semaca...