MELIHAT MUKJIZAT TUHAN


(Yoh 6:1-15)

 

Para murid dihadapkan pada persoalan yang nyaris mustahil, ketika Yesus bertanya kepada Filipus:  "Di manakah kita akan membeli roti, supaya mereka ini dapat makan?" (Yoh 6:5). Ada lima ribu orang, dan pasti membutuhkan amat banyak roti. "Roti seharga dua ratus dinar tidak akan cukup untuk mereka ini, sekalipun masing-masing mendapat sepotong kecil saja." (Yoh 6:7). Dua ratus dinar! Bayangkan, upah kerja sehari saat itu adalah satu (1) dinar (bdk. Mat 20:9). Uang sebanyak itu tidak ada pada mereka.

Di tengah kebingungan, Andreas menawarkan “solusi aneh” yang juga bahkan diragukan oleh dirinya sendiri. "Di sini ada seorang anak, yang mempunyai lima roti jelai dan dua ikan; tetapi apakah artinya itu untuk orang sebanyak ini?" (Yoh 6:9).

Toh, Yesus mendengar diskusi mereka, “menyepakati” apa yang bisa mereka sediakan, lalu membuat mereka menyaksikan mukjizat: “Lalu Yesus mengambil roti itu, mengucap syukur dan membagi-bagikannya kepada mereka yang duduk di situ, demikian juga dibuat-Nya dengan ikan-ikan itu, sebanyak yang mereka kehendaki.” (Yoh 6:9).

Yesus mengajari para murid, dan kita, tentang cara melihat dan mengalami mukjizat TUHAN. Para murid diajak untuk terlibat sungguh-sungguh dalam situasi-situasi “mustahil” dan “diganggu” untuk sebisa mungkin terlibat menyelesaikannya. Mereka tidak hanya “menonton kerja TUHAN”, tetapi harus berani untuk “ikut jadi lapar”, “memandang dengan mata peduli seperti TUHAN”, dan “bergerak menyelesaikan soal”.

Untuk bisa melihat mukjizat TUHAN, kita belajar dari para murid. Karya TUHAN yang ajaib hanya bisa dilihat oleh mereka yang sungguh-sungguh mencintai panggilan hidup mereka. Sungguh-sungguh, berarti:

(1)  berani diajak TUHAN untuk “ikut lapar”. Berapa kali kita mendengar dan hadir dalam persoalan orang yang kita sayangi, atau umat kita? Hadir dan mendengar, maksudnya, tanpa menghakimi, tanpa menuduh, tapi ikut “lapar” seperti mereka yang datang ke kita karena “berbondong-bondong mencari TUHAN”.

(2) Berani melihat dengan “mata peduli TUHAN”, dan bertindak sebisa kita. Kepedulian adalah kunci melihat TUHAN. Hanya orang peduli yang bisa sungguh-sungguh berdoa, sebab mereka pasti akan pernah ikut menangis dan akan bertindak secepat mungkin dan sebisa mungkin.

Maka, apa yang bisa kita buat saat itu, buatlah, meskipun itu kecil dan sederhana. Tindakan kepedulian itu mungkin hanya akan sebesar “lima roti jelai dan dua ikan”, tapi di dalamnya, kita membawa kesediaan untuk “ikut lapar”, lalu sama-sama berdoa meminta pertolongan TUHAN. Selanjutnya, yang kita lihat adalah “karya TUHAN". TUHAN melanjutkannya dan membuat semuanya menjadi mukjizat.

Ketika karya-karya kecilmu ada dalam kesempurnaan berkat TUHAN bagi orang lain, di situlah, engkau melihat mukjizatNya.

 

Lublin - Polandia, 28 Juli 2024

Rm. Valerian Karitas, Pr

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MENGAPA RASA SYUKUR BISA TIDAK ADA DI HATI?

BERBAHAGIALAH

SUDAH (BARU) 5 TAHUN