PUNYA HATI
(Mrk. 3:20-33)
Orang-orang
Yahudi menuduh Yesus bersekutu dengan Beelzebul, penguhulu setan (Mrk 3:22). Saudara-saudara
Yesus berniat mengambil DIA karena “sudah tidak waras lagi” (Mrk. 3:21). Ada apa?
a.
Kelompok pertama, para pengusung ide “Beelzebul”,
berusaha memfitnah Yesus. Mereka ingin orang-orang tidak lagi datang dan
mendengarkanNya. Entah yang disampaikan Yesus benar, atau baik, mereka tidak peduli.
Apapun caranya, yang penting pengikut Orang Ini berkurang, dan Beelzebul adalah
senjata yang ampuh untuk memfitnahnya. Gampang, tinggal fitnah sampai semua
orang membenci, pasti tidak ada lagi yang mendengarkanNya. Sampai sekarang,
fitnah selalu ampuh. Penerimanya juga tidak perlu membuktikan kebenarannya. Cukup
mendengar, dan jadilah kisah, dan kita punya alasan untuk membenci.
b.
Kelompok kedua, para pengusung ide “DIA
sudah tidak waras lagi”, berusaha menarik Yesus dari pewartaanNya “karena malu”.
Mereka takut ikut dibenci atau dijauhi. Bagi mereka, nama baik adalah
segala-galanya. Alih-alih membanggakan pewartaan Yesus dan mengikuti DIA,
mereka malah sibuk memata-mataiNya, sebab kalau DIA tidak disukai, atau
bersinggungan dengan penguasa pemerintahan dan agama Yahudi, mereka juga akan
terkena imbasnya. Kalaupun itu benar, apapun alasannya, DIA “harus disenyapkan”
demi kehormatan dan harga diri keluarga, kira-kira begitu. Sampai sekarang, “harga
diri kelompok/keluarga” masih sering jadi duri. Orang kehilangan hati, lalu menetapkan
standar apapun, semahal-mahalnya sampai berutang. Orang saling menghadang untuk
menjaga gengsi. Orang saling menutupi kesalahan satu sama lain dan mencuri
kesempatan untuk berubah dan menjadi lebih baik. Kita mudah memikirkan “apa
kata orang”, dan mengabaikan “apa kata hati”.
Ketika
suatu kebenaran datang, dan kita tidak menerimanya dengan hati, kita akan
cenderung memilih menjadi anggota dua kelompok di atas; menjadi penggemar
Beelzebul, atau penjaga gengsi. Setelah tidak suka, kita cenderung “mengarang
cerita”, atau “menerima karangan cerita lain” demi memuaskan keinginan kita untuk
melawan kebenaran yang mengganggu kita. Setelah terganggu, kita cenderung “membungkam
kebenaran”, demi gengsi dan harga diri. Masalah kita, akar dari dua kelompok yang
sama-sama merusak ini, adalah punya hati. Lalu bagaimana cara untuk punya hati?
a.
Kesediaan mendengar. Apakah anda pernah
bersedia mendengar sampai selesai, dan tidak cenderung memotong pembicaraan? Berapa
kali “anda pergi dari cerita atau persoalan”, karena tidak mau mendengarnya? Ada
berapa jenis “serangan balik” muncul di kepala anda ketika mendengar sesuatu?
Kalau masih banyak dan masih sering memotong, pergi, dan membantah, anda belum
menjadi pendengar yang baik, dan kemungkinan “tidak punya hati”.
b.
Duduk, dan renungkanlah kebenaran. Berapa
kali anda pernah mendengar suara hati, terutama tentang “ini atau itu benar”,
mengikutinya dan mendukungnya dengan tulus? Harus selalu mau mengakui, dalam situasi
seberat apapun, “ada benarnya juga”. Harus selalu bisa mendengar suara hati.
Lublin – Polandia, 9 Juni 2024
Rm. Valerian Karitas, Pr

Komentar
Posting Komentar