TUMBUH (Mrk. 4:26-34)

 

Foto: Komuni Pertama Paroki Katedral Ruteng, 2021

TUMBUH

(Mrk. 4:26-34)

 

Yesus menyampaikan perumpamaan tentang benih yang tumbuh. Perumpamaan ini dibagi dalam dua bagian:

a)    Benih yang tumbuh sendiri di dalam TUHAN; “Penabur itu tidur dan bangun siang dan malam, dan benih itu mengeluarkan tunas dan bertumbuh. Penabur itu tidak tahu bagaimana terjadinya” (Mrk 4:27).

b)    Tumbuh dan menjadi rindang; menjadi tempat bernaung dan berlindung; “tetapi ketika ditabur, biji itu akan tumbuh dan menjadi lebih besar daripada semua tanaman kebun, dan mengeluarkan cabang-cabang besar sehingga burung-burung di udara dapat membuat sarang di bawah naungannya." (Mrk 4:32).

Perumpamaan ini mengarah pada langkah penting dalam hidup manusia: tumbuh dan berkembang. Bagaimana sebetulnya tumbuh dan berkembang di dalam TUHAN? Bagaimana kerajaan Allah itu tumbuh di hati kita? Apa saja halangannya?

a)    Kita selalu kesulitan dengan urusan “tumbuh sendiri di dalam TUHAN". Sumber beban pikiran yang paling berat itu ada dua, tidak bisa mengendalikan keadaan dan menunggu. Kita selalu berharap segala sesuatu sesuai skenario kita, sesuai strategi. Kalau tidak, kita menjadi mudah kepikiran, merasa gagal, merasa sia-sia. Kita menjadi jatuh dalam beban pikiran yang tak berujung, yang kemudian malah membuat kita stres. Kita selalu berharap segala sesuatu terjadi sekarang, atau sekurang-kurangnya secepat mungkin. Kita selalu membenci proses, apalagi yang lambat. Pikiran kita terus-menerus “memaksa” untuk ada di garis akhir cerita. Ketika kenyataan tak secepat itu, kita marah pada Tuhan, kita marah pada diri sendiri, kita mempersalahkan orang lain dan keadaan.

b)    Kita selalu kesulitan dengan urusan “ukuran pertumbuhan”. Kita sering berjumpa dengan “kehilangan tanggung jawab”. Orang (atau saya) memiliki posisi dan status, memiliki tugas dan janji, tetapi seenaknya hidup, tanpa bertanggung jawab atas pilihan dan janjinya sendiri. Kita tumbuh, dengan segala rezeki dan berkat, tapi tidak menjadi lebih baik, sebab kita tidak bertanggung jawab. Kita tidak melakukan apa yang seharusnya kita lakukan dalam posisi dan janji kita sendiri.

Lantas, apa yang mau TUHAN sampaikan pada kita?

a)    TUHAN ingin kita percaya pada prosesNya. Kita dilimpahi banyak berkat, berjalan bersama banyak orang baik, dan mendapatkan begitu banyak kesempatan. Bertumbuh di dalam TUHAN melibatkan “proses” dan “TUHAN". “Proses” memastikan kita belajar, termasuk mengolah diri, hati, dan prinsip, agar menjadi lebih dewasa dan lebih baik. “TUHAN” memastikan bahwa jalur pertumbuhan itu tidak akan berakhir layu, atau mati. Jangan meremehkan kesabaran dan doa. Percayalah, itu membawamu menjadi diri yang lebih baik.

b)    Ukurlah dirimu dengan “naungan”. Menjadi dewasa dalam tanggungjawab, berarti kita menjadi “naungan yang rindang bagi orang lain, terutama yang TUHAN percayakan untuk kita jaga”. Kalau kita bertumbuh oleh berkat TUHAN, pastikan kita bertumbuh menjadi tempat bernaung, bukan menjadi tanaman beracun. Kalau kita lebih sering mendatangkan luka daripada menghadirkan rasa aman bagi orang-orang yang kita sayangi, kita belum bisa menjadi naungan yang baik. Kalau kita masih sering “pergi dari cerita”, egois, menghakimi, mempersalahkan, dan tidak bersedia “punya hati”, kita belum bisa menjadi tempat bernaung.

 

Lublin – Polandia, 16 Juni 2024

Rm. Valerian Karitas, Pr

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MENGAPA RASA SYUKUR BISA TIDAK ADA DI HATI?

BERBAHAGIALAH

SUDAH (BARU) 5 TAHUN