Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2019

Renungan Senin, 1 April 2019

Yoh 4:43-54 TUHAN, dan hal-hal yang tak dapat kaulakukan sendiri Ketika ia mendengar, bahwa Yesus telah datang dari Yudea ke Galilea, pergilah ia kepadaNya lalu meminta, supaya Ia datang dan menyembuhkan anaknya, sebab anaknya itu hampir mati.  (Yoh 4:47) IA datang Bergema di seluruh semesta Berbisik di hatimu setiap waktu Sayang, jika engkau setia memilih menderita sendiri Tidak semua hal dapat berjalan sesuai rencanamu, bahkan bila engkau yakin sekalipun Lalu apakah kecewa dan putus asa harus ada? Apakah engkau perlu berhenti berharap? IA kembali Ke sudut jiwamu, ke hatimu Sudah saatnya menemuiNya, lalu bercerita mengurai kesahmu IA memang tak membuatmu pergi dan lari dari derita Tapi IA selalu punya jalan, agar bahagiamu tak terganggu, engkau semakin matang dalam langkah hidup Dan agar IA tak perlu pergi dari hatimu Damai di bumi, cinta di hati, kasih pada sebutir senyuman Fr. Valerian Karitas

Renungan Minggu, 31 Maret 2019

Minggu Prapaskah IV Luk 15:1-3, 11-32 Penantian Sang Bapa Maka bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya. Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia.  (Luk 15:20) Seburuk apapun, engkau tetap anakNya, anakNya yang sangat IA kasihi Sejauh apapun engkau pergi IA tak pernah melewatkan hari, melihat jalan pulang, dan menunggumu kembali Bahkan bila engkau menolakpun, pergi dan hidup seolah-olah tak berBapa lagi Lalu bila dunia tak lagi dapat kau beli, kau rendahkan darahmu serendah binatang, itupun tak diizinkan IA tetap melihat jalan pulang, menunggumu kembali IA tak ingin melewatkan bahagiaNya tanpamu Maka bila engkau kembali BahagiaNya kini lengkap, dan IA akan berlari merangkul dan menciummu, anakNya Di dalam hangat rangkulanNya, ketahuilah Bahkan segala alasanmu tak lagi IA tanyakan Bahkan segala berkatNya yang kau habiskan tak lagi IA tagih Itu BAPAmu, ...

Renungan Jumat 29 Maret 2019

Mrk 12:28b-34 Hukum Kasih Jawab Yesus: "Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa. Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini."  (Mrk 12:29-31) Tobat tanpa kasih itu mustahil Ia hanya menjadi usaha menipu diri, sesama, dan TUHAN Bila kasih jadi selimut hati Bukankah jalan kembali jauh lebih lapang? Kasih adalah satu-satunya jalan, tempat engkau tak lagi perlu paksaan, ancaman, dan ketakutan untuk kembali ke jalan hidup Dalam hidup Kata-kata dapat menipu Rindu dapat bertepuk sebelah tangan Tetapi kasih tak pernah salah memilih hati Karena itu, bila ingin bahagia di jalan hidup Milikilah kasih Bila ingin bahagia di jalan tobat Kasihi TUHAN dan sesamamu Sebelum lupa Tak ada gunanya, bi...

Renungan Kamis, 27 Maret 2019

Luk 11:14-23 Beelzebul Siapa tidak bersama Aku, ia melawan Aku dan siapa tidak mengumpulkan bersama Aku, ia mencerai beraikan."  (Luk 11:23) Mungkin akan ada waktunya setan kehilangan tugas Saat setiap hati berusaha menjadikan kebaikan sesama sebagai setan bagi ego dan kesombongannya Bagaimana engkau berbalik bila engkau berselimut curiga? Di dalam kasih Curiga selalu berbalut takut dan terancam Tapi sesungguhnya, kebaikan kasih selalu kandas, saat hatimu curiga dan bertanya "mengapa bukan aku?" Bila tobatmu terhenti Mungkin engkau bukan tak mau Rindumu kandas pada dua duri di hatimu "Mengapa harus dia?" "Mengapa bukan aku?" Ingatlah, bila engkau menantikanNya dalam mimpi sejuta cahaya, IA memelukmu dalam darah salib Tobat selalu ada pada jalan yang tak kau suka Saat itu, janganlah tergoda menyebut Beelzebul (lagi) Damai di bumi, cinta di hati, kasih pada sebutir senyuman Fr. Valerian Karitas

Renungan Rabu, 27 Maret 2019

Mat 5:17-19 Taurat Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi.  (Mat 5:18) Jika engkau menunggu tobatmu pada jalan baru Yang terbentang di mata hatimu hanya jalan lama dan tua, seperti dahulu, kemarin, esok Tak ada yang berubah Bukankah kasih sudah setua semesta? Bukankah bahagia sudah setua bumi? Yang baru, dalam penantianNya, adalah hatimu IA tetap setia, seperti dahulu, sekarang, dan selamanya Engkau yang selalu lupa Tobat takkan selesai, bila engkau masih rajin mempersalahkan keadaan Damai di bumi, cinta di hati, kasih pada sebutir senyuman Fr. Valerian Karitas

Renungan Selasa, 26 Maret 2019

Mat 18:21-36 Pengampunan Yesus berkata kepadanya: "Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.  (Mat 18:22) Bila engkau ingin kembali, setidaknya kembalikan sesamamu pada jalinan kasih di hatimu Sebab bagaimana engkau bertobat dalam kebencianmu? Berlakulah seperti IA yang mengampuni Lalu jangan takut menjadi lemah karena mengampuni Pengampunan berarti engkau tak sama buruknya dengan kesalahan yang mendera maafmu Dan takkan ada jalan menuju kebaikan dalam dendam Inilah kemenangan kasih Sukacita dan bahagia dalam pengampunan Jalan kembali bagimu akan dibuka, jika engkau juga membuka jalan kembali bagi sesamamu Damai di bumi, cinta di hati, kasih pada sebutir senyuman Fr. Valerian Karitas

Renungan Senin, 25 Maret 2019

Hari Raya Kabar Sukacita Luk 1:26-38 Sukacita sebuah pilihan Kata Maria: "Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu." Lalu malaikat itu meninggalkan dia.  (Luk 1:38) Dapatkah engkau bayangkan Sukacita keselamatanmu hadir dari pilihan berani seorang perawan Nazareth? Bahagia abadimu berlabuh pada tegarnya perempuan muda, yang kelak menerima dera penderitaan terberat untuk keibuannya yang setia? Lihatlah, sukacita itu lahir dari pilihan Keselamatan adalah milik orang-orang yang berani memilih hidup, lalu setia untuk tetap berbahagia dalam pilihan itu Bila IA memilihmu untuk sesuatu yang kau peluk seumur hidupmu IA tak pernah menunggu engkau kuat IA tahu, semakin perkasa, engkau hanya kuat memberi alasan IA datang kepada hati yang mampu memilih bahagia, lalu setia memeluknya Seperti Perempuan Nazaret yang setia itu Kabar itu sudah sampai di hatimu Sudahkah engkau memilih bahagia kasih itu? Berjaga-jagalah terhadap banyaknya p...

Renungan Minggu, 24 Maret 2019

Minggu Prapaskah III Luk 13:1-9 Kesempatan Jawab orang itu: Tuan, biarkanlah dia tumbuh tahun ini lagi, aku akan mencangkul tanah sekelilingnya dan memberi pupuk kepadanya,  (Luk 13:8) Bahagia hidup sejatinya adalah kisah kesempatan Saat engkau selalu sempat ada dan berarti dalam setiap rahmat Lihatlah kesedihan Bukankah sedih berarti engkau pernah melewatkan kesempatan, dan saat rahmat itu tak datang lagi? Jangan pernah melewatkan setiap kesempatan, meski kecil sekalipun Mungkin engkau takkan mendapatkannya lagi Bertobat adalah kesempatan Kesempatan mengajarimu, bahwa seharusnya engkau tak pernah perlu menyesal, bahwa kasih itu nyata, dan bahwa engkau yang mesti memilih, pulang atau tetap pergi Lalu sampai kapan engkau mesti menunggu? IA sudah memanggil hatimu yang pergi Sampai kapan segala urusan membelenggu tobatmu? IA menunggumu Kasih itu memang abadi Tapi hidupilah seperti engkau takkan mendapatkannya lagi Agar engkau tahu, betapa berartinya kesempatan Janga...

Renungan Sabtu, 23 Maret 2019

Luk 15:1-3, 11-32 Hilang Para pemungut cukai dan orang-orang berdosa biasanya datang kepada Yesus untuk mendengarkan Dia. Maka bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, katanya: "Ia menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka."  (Luk 15:1-2) Engkau dapat hilang dalam dua cara Hatimu pergi dan rindumu tinggal tersembunyi Atau hatimu tinggal tapi rindumu pergi Bila hatimu pergi, engkau menemukan bahagia semu Lalu mulai bersua derita Engkau lalu lupa bahwa engkau masih punya hati dariNya, lalu mulai berlaku serendah-rendahnya Bila demikian, rindumu memanggilmu pulang padaNya Akankah engkau pulang? Tapi bila rindumu yang pergi, kasih pun pamit Dengan apa lagi engkau akan berdoa? Bagaimana engkau mengikat hatimu? Engkau lalu mulai memanjangkan doa, menoleh dan mencibir, bahkan menuntut Akhirnya menjadi tuhan kecil Segalanya benar, karena hati tak pergi Jauh lebih mudah, bila hanya hati yang pergi Engkau hanya perlu merindu...

Renungan Jumat 22 Maret 2019

Mat 21:33-43, 45-46 Penggarap Kebun Anggur Tetapi ketika penggarap-penggarap itu melihat anaknya itu, mereka berkata seorang kepada yang lain: Ia adalah ahli waris, mari kita bunuh dia, supaya warisannya menjadi milik kita.  (Mat 21:38) Tidakkah engkau tahu, bahwa segala yang ada padamu adalah pemberian? Berapa kali engkau merayakan kegagalanmu memanen rahmat kasih? Kau tutup nuranimu Kau bunuh suara hatimu Lalu bergembira ria merayakan kekalahan hati Manusia pada dasarnya tidak suka diganggu IA tak sampai ke hati, karena engkau tak rela dipanggil pulang, apalagi oleh sesamamu Manusia hanyalah penggarap Tanah, bahkan anggur juga milikNya Berlakulah seperti engkau tak pernah memiliki Terima dengan syukur Kerjakan dengan baik, sambil berdoa, sebab IA yang memiliki lebih tahu Lalu terimalah sesamamu dengan kasih Ia juga penggarap, bekerja untuk dirinya, tak pernah merebut bagianmu Lagipula, bukankah rahmat jauh lebih banyak jika tak sendiri? Jika engkau masih mentuha...

Renungan Kamis, 21 Maret 2019

Luk 16:19-31 Lazarus Kata Abraham kepadanya: Jika mereka tidak mendengarkan kesaksian Musa dan para nabi, mereka tidak juga akan mau diyakinkan, sekalipun oleh seorang yang bangkit dari antara orang mati." (Luk 16:31) Segeralah berbuat selagi ada kesempatan berbagi kasih Sebab bagaimana engkau akan bernilai jika engkau enggan berbagi? Jalan tobat adalah jalan kepekaan Setiap hati dapat menjadi Lazarus bagimu Menunggu engkau berbuat Mengubah dan membahagiakan Sayang Engkau lebih suka merasa terganggu Mempersalahkan kemalasan, kedegilan, kesalahan Lazarus Lalu pergi Bagaimana jika mereka tak lagi berdaya, dan engkau malah pergi? Jangan pernah melewatkan kesempatan mengasihi Bila saatnya tiba IA datang dengan wajah Lazarus Dan engkau tak lagi bisa menggerutu Damai di bumi, cinta di hati, kasih pada sebutir senyuman Fr. Valerian Karitas

Renungan Rabu, 20 Maret 2019

Mat 20:17-28 Mahkota Penderitaan Kata Yesus: "Apa yang kaukehendaki?" Jawabnya: "Berilah perintah, supaya kedua anakku ini boleh duduk kelak di dalam KerajaanMu, yang seorang di sebelah kananMu dan yang seorang lagi di sebelah kiriMu."  (Mat 20:21) Waspadalah terhadap hilangnya rasa kasih Jangan mengira, bila kasih tak ada, engkau pergi Kasih akan berganti kuasa Cinta akan berganti serakah Engkau mulai cinta diri Lalu memperhamba sesamamu dan TUHANmu demi dirimu sendiri Jalan kasih adalah jalan bermahkota derita Jalan salib, bersama jiwamu yang terus diasah Jalan kekalahan, bersama kakimu yang lelah memeluk kelemahan Setiap hati mengasah kasihnya dalam derita Seperti DIA yang mengasah kasihNya di salib IA menjadi segalanya bagimu dalam kasih Engkau juga menjadi berarti dalam kasih Berjalanlah di jalan salib Setiap orang berhak berbahagia Tapi bagaimana engkau menemukannya tanpa kasih? Setiap orang harus mengasihi Tapi bagaimana engkau belajar kas...

Renungan Selasa, 19 Maret 2019

Hari Raya St. Yosef, Suami Sta. Maria Mat 1:16,18-21,24a Yusuf, Suami Maria Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya (Mat 1:24a) Dapatkah engkau menemukan cinta yang lebih tulus dari diam? Bukankah engkau menemukan kekasihmu dari diamnya, mendengarmu dan mendengar DIA Cinta adalah memilih menjadi berarti Itu jauh lebih baik daripada menyebutnya takdir Dalam takdir, engkau pasrah Dalam pilihan, engkau bahagia Sebab bagaimana engkau mesti bertemu kelemahan? Bagaimana engkau mesti memeluk kecewa? Bagaimana engkau mesti menerima luka? Cinta selalu memilih Memilih selalu mendengar Mendengar selalu diam Seperti Yusuf Belajarlah dari cinta diam sang tukang kayu Cinta selalu bahagia bila engkau bersedia mendengarkan Lalu mulai menyusun bahagia Dalam bahagia dari cinta yang engkau pilih, IA tak pernah pergi Damai di bumi, cinta di hati, kasih dalam sebutir senyuman Fr. Valerian Karitas Kalau terlalu panjang, mohon...

Renungan Senin 18 Maret 2019

Luk 6:36-38 Cermin Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu."  (Luk 6:38) Perlakukan hidupmu selayaknya bercermin Engkau pasti tahu, apa yang membuatmu memiliki pesona Engkau pasti tahu, bagaimana agar terlihat cantik atau tampan Logika cermin itu sederhana Bahagia bila engkau bahagia Tersenyum bila engkau tersenyum Mengulur tangan jika engkau mengulur tangan Cermin mengajarimu dua hal Bahagia itu memberi, dan bahagia itu dimulai dari diri Sesamamu adalah cermin dirimu Bila engkau baik, apa yang kau lihat juga baik Hanya saja Engkau lebih suka tahu lebih dahulu Atau lebih suka menunggu Tobat berarti belajar memulai kebaikan Damai di bumi, cinta di hati, kasih pada sebutir senyuman Fr. Valerian Karitas

Renungan Minggu, 17 Maret 2019

Minggu Prapaskah II Luk 9:28b-36 Mengubahmu Ketika Ia sedang berdoa, rupa wajahNya berubah dan pakaianNya menjadi putih berkilau-kilauan.  (Luk 9:29) Jalan tobatmu biasanya ada dua Engkau dapat cepat lelah dan tak berdaya untuk pulang Engkau juga dapat terlalu sibuk, enggan kembali Perhatikan, bagaimana IA mengubah diriNya demi memenangkan hatimu Bila engkau terlampau lemah dan tak berdaya untuk kembali IA berubah, kuat mengatasi kelemahanmu Bila engkau terlampau sok kuat dan tegar Tak lagi mau kembali IA kembali berubah, berpalang darah, dan bermahkota duri untuk menyapa hatimu IA menguatkanmu Bila engkau terlampau putus asa untuk kembali Bila engkau terlalu sibuk, lupa, lalu tak mau kembali Hanya satu yang IA impikan Engkau tetap merindukanNya di hatimu Setiap saat, setiap kesempatan, setiap hembusan nafasmu Sudahkah kemah di hatimu berdiri? Damai di bumi, cinta di hati, kasih pada sebutir senyuman Fr. Valerian Karitas

Renungan Sabtu 16 Maret 2019

Mat 5:43-48 Kesempurnaan Kasih Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian?  (Mat 5:46) Setidaknya, jadilah berbeda di dalam kasih Utamakan untuk lebih dahulu mengasihi Bukan hanya membalas Lagipula, bukanlah mendendam berarti engkau tak lebih baik dari kesalahan yang kau simpan di bara hatimu? Apa yang membahagiakan dari hidup yang hanya membayar kasih? Bila engkau menerima, lalu mengembalikannya, apa lagi yang tersisa, yang menjadi milik hatimu? Lakukan tobatmu dengan kasih Mulailah berbuah kebaikan, sebaiknya dari hati yang tak ingin kau sentuh Titik kesempurnaan kasih adalah bila engkau mampu mendoakan hati yang melawanmu Doa sebagai kata hati tak pernah salah Dan IA tahu, engkau menang melawan dosamu Damai di bumi, cinta di hati, kasih pada sebutir senyuman Fr. Valerian Karitas

Renungan Jumat 15 Maret 2019

Mat 5:20-26 Damai tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu.  (Mat 5:24) Bagaimana engkau dapat berdoa dengan hati bergelimang benci? Bagaimana kata hati yang penuh kasih lahir dari jiwa kedengkian?  Bukankah segala yang keluar hanya kau ukir di pintu bibirmu? Lalu doamu tak lebih dari menipu diri? Tobat adalah jalan mendamaikan jiwa Temukan ketenangan dan kebahagiaan jiwamu Sapa kembali hati yang telah kau lukai Bukalah pintu bagi hati kembali menyapa hatimu Camkanlah Kedengkian, meski kecil sekalipun, adalah neraka Di dalamnya, engkau takkan pernah dapat berdoa Suara hatimu takkan pernah sampai Pada setiap hati, padaNya Tak ada kengerian yang lebih buruk dari itu Damai di bumi, cinta di hati, kasih pada sebutir senyuman Fr. Valerian Karitas

Renungan Kamis 14 Maret 2019

Mat 7:7-12 Meminta Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamuq yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yangq meminta kepadaNya."  (Mat 7:11) IA, yang tak pernah sejengkal pun pergi dari sisimu Adalah pemberi segala karunia Tak ada salahnya, jika salibmu kau bawa bersama untai doamu Dalam salib, setiap doa adalah air mata, keluh yang tak lagi mampu dipikul hati Doa dalam derita tak pernah salah Bila tak meminta, apa isi doamu? Bagaimana engkau akan bersyukur? IA pasti memberi, bahkan yang tak kau minta Bila belum, mungkin engkau belum mengambilnya Atau membuka pintu lain Damai di bumi, cinta di hati, kasih pada sebutir senyuman Fr. Valerian Karitas