In memorian: Rm. Patris Bollar, Pr “KISAH-KISAH PARA TAMU PASTORAN” (BAGIAN I)

 



In memorian: Rm. Patris Bollar, Pr

“KISAH-KISAH PARA TAMU PASTORAN” (BAGIAN I)

 

Sekitar penghujung Juni 2020, saya mendapat SK, bersama Rm. Patris Bollar di Paroki Sta. Maria Fatima Cancar. Saya tidak pernah berjumpa beliau sebelumnya. Saya hanya merekam dua pesan sebelum ke sana: “Wah, ité (anda, Manggarai) dapat pendamping yang hebat”, dan “beliau sakit e”. Pelayanan, yang dilanjutkan dengan masa Diakonat yang penuh persaudaraan itu berlanjut selama hampir empat bulan. Saya mendapat kesempatan istimewa, bisa belajar dalam panggilan dan pelayanan bersama Rm. Ndelik (panggilan kecil beliau, yang berkali-kali saya tanya dari mana itu nama, tidak pernah dapat jawaban) yang amat luar biasa. Kami berdua sama-sama baru di Cancar. Beliau baru beberapa bulan pindah dari Ranggu, dan saya baru selesai kuliah dan mau ditahbiskan menjadi Diakon. Sama-sama memulai, sama-sama belajar beradaptasi, saya menyaksikan sosok Imam yang luar biasa dalam diri beliau.

“Pelajaran pertama” kami adalah menerima dan mendengar umat. Beliau, dengan kaki yang masih luka, bawa motor, dan saya diboncenginya. Saya sedikit memaksa untuk bisa segera latihan bawa (mengendarai) sepeda motor, tapi jawaban beliau jelas, “jangan dulu, acara-acara besar menanti dalam waktu dekat. Ite harus sehat”, katanya, sambil menyeruput kopi pahit dan menikmati LA Bold di ruang makan pastoran, dan saya kalah. Misa demi misa, perjumpaan demi perjumpaan, minyak suci demi minyak suci, saya selalu diajak. Bahkan kalau ada umat bertamu, saya harus datang dan duduk bersama mereka dan beliau.

Saya perhatikan dengan teliti, gaya bicara yang luar biasa: perpaduan ramah, akrab, penerimaan, dan kedekatan yang amat jarang ditemukan. Dalam sepersekian detik setelah mendengar suaranya, anda akan langsung merasa in. Ketika mesti memutuskan atau menegur, ada perpaduan yang amat jarang, ketegasan dan kelembutan.

Apa gunan rugi ta ase geong, eme toe mengerti lata apa masalahn” (apa gunanya marah, kalau orang tidak mengerti apa soalnya),

jawabnya ketika saya pernah memprotes, sebab ada situasi yang menurut saya butuh sedikit nada tinggi.

Kemudian saya mengerti, mengapa tamu beliau banyak sekali. Tiada hari terlewatkan tanpa mobil pick up dari Reweng, atau motor CB Verza dan Revo berlepotan lumpur dari Ranggu dan sekitarnya. Tidak ada waktu terlewatkan saban hari, tanpa senda gurau dan canda tawa yang membahana khas orang-orang Cancar dan sekitarnya di ruang tengah pastoran. Orang-orang dari Golowelu dan Ranggu (yang biasa berurusan dengan Bank BRI di Cancar, satu-satunya bank terdekat ketika ada urusan gaji atau penerimaan bantuan untuk mereka) selalu menyempatkan diri mengunjungi beliau. Saya amat terpesona pada kedekatannya dengan umat. Saya ingat pernah ‘membongkar’ kisah-kisah mereka. Ada Ame Sebas Patong (alm.) dari Suka, yang pernah bertaruh satu ekor ayam jantan besar kalau Gereja Paroki Ranggu selesai dibangun, dan akhirnya menepati janjinya ketika Gereja itu selesai. Ada Om Engky dari Reweng, yang saking gembiranya bertemu beliau sampai melupakan tas berisi barang-barang berharga di pastoran. Tak terhitung umat paroki Cancar, dengan segala keluhan dan permintaan, datang hampir setiap hari.

Mereka akan pulang dengan berbagai jenis ekspresi. Ada yang sambil tertawa dan tersenyum lebar, melanjutkan sisa-sisa gurauan di tengah pamit. Ada yang berfoto ria, sekadar mengabadikan momen, lalu memenuhi story Whatsapp dan media sosial lainnya dengan foto bersama Romo kebanggaan dan kesayangan mereka. Ada yang mesti diarahkan ke tempat sampah terdekat untuk membuang tisu, dengan gurat-gurat air mata yang tumpah di tengah keluhan yang panjang dan sedih. Semuanya diterima beliau dengan sabar, penuh kebapaan, dan penuh persaudaraan kasih.

Suatu ketika, ketika menemani beliau, saya bertanya tentang rahasia kedekatan yang luar biasa dengan umat.

“Oee Waladi” (beliau memanggil saya kemudian dengan nama ini, karena saya pernah tertawa saat Oma di depan pastoran Cancar memanggil beliau “Romo Pataris”),

“Catat ini e. Umat nomor satu, keluarga dan teman nomor dua, diri sendiri nomor tiga. Kalau sakit, pindahkan nomor tiga ke nomor satu, tapi jangan geser, biar saja mereka bergandengan di situ”.

Tidak ada trik khusus. Ada hati, dan bersedia, itu cukup, simpulku dalam hati sambil menyetujui resep beliau. Saya jadikan ini sebagai semboyan utama dalam panggilan saya sampai sekarang. Seluruh cara kedekatannya dengan umat saya pelajari baik-baik, dan sebisa mungkin saya tiru, sambil pelan-pelan menentukan gaya saya sendiri.

Sekarang, beliau dipanggil TUHAN. Setelah berjuang bersama sakit yang terus-menerus mengganggu dirinya selama beberapa tahun terakhir, TUHAN memutuskan memindahkan ruang tamu beliau bersamaNya. Entah mengapa, saya memilih membayangkan, ketika kami akan bertamu kembali dalam doa, ada TUHAN, Sang Tuan Rumah Abadi, yang akan setia duduk dan mendengar kami dan kita.

 

Lublin – Polandia, 14 Juni 2024

Rm. Valerian Karitas, Pr

Komentar

  1. Pelajaran hidup luar biasa yang ditinggalkan RM Patris. Tugas utama adalah pelayanan dengan kunci suksesnya adalah Bersedia melayani dengan Hati

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

MENGAPA RASA SYUKUR BISA TIDAK ADA DI HATI?

BERBAHAGIALAH

SUDAH (BARU) 5 TAHUN