IRONI NAZARETH
IRONI NAZARETH
Kisah Nazareth menolak Yesus adalah
sebuah ironi yang aneh tapi nyata. Ketika kedekatan atau persahabatan
mengandaikan semua orang mestinya lebih menerima dan bergembira dalam perjumpaan,
Nazareth malah “agak laen”. Ada apa? Apakah kita bisa jatuh menjadi
seperti Nazareth juga?
a. Takjub
yang aneh. "Dari mana diperoleh-Nya semuanya itu? Hikmat apa pulakah yang
diberikan kepada-Nya? Dan mujizat-mujizat yang demikian bagaimanakah dapat
diadakan oleh tangan-Nya?” (Mrk 6:2).
Orang-orang
dekat Yesus menjadi takjub ketika mendengar tentang DIA, tetapi langsung
berubah sikap ketika mereka “tahu siapa DIA”. Seorang teman pernah bilang
pada saya, “orang yang disebut suci tidak punya masa lalu”.
Bagian
pertama yang kita bicarakan tentang “orang dekat” adalah masa lalunya.
Lapis demi
lapis cerita, seperti “kami tahu dia dulu begini dan begitu”, “dia pernah
begini dan begitu”, “keluarganya begini dan begitu” dan sebagainya, membuat semacam
kisah tandingan untuk mengaburkan atau menghilangkan apa yang dibawa pada kita
dari “orang dekat” atau “orang yang kita kenal itu”.
Tetapi kemudian kita
bertanya-tanya, mengapa bisa jadi begitu?
b. Maka
Yesus berkata kepada mereka: "Seorang nabi dihormati di mana-mana kecuali
di tempat asalnya sendiri, di antara kaum keluarganya dan di rumahnya."
(Mrk 6:4).
Kedekatan
itu menjadi ironis, karena pada saat yang sama, kita sering terjebak untuk
menjadi “toxic”. Kita “mengatur” orang atau bahkan TUHAN untuk mengatakan
atau melakukan apa yang ingin kita dengar atau kita lihat, dan mengabulkan apa
yang kita inginkan.
Kita biasanya
tidak selalu siap untuk ada bersama teman atau keluarga yang “dibicarakan orang”,
dan juga tidak selalu siap untuk mendengar hal-hal yang mengganggu dari orang-orang
terdekat kita.
Ketika
kita salah, orang yang paling sulit menasihati kita adalah teman kita sendiri. Kalau
dia berhasil untuk tegas pada prinsip, “menjadi nabi” dan menegur, kita
cenderung menjauhinya dan tidak lagi menghargainya. Pembelaan yang paling
sering muncul adalah “saya kenal kau, jangan sok menasihati saya”. Nazareth jatuh
pada ironi ini ketika “Yesus yang mereka kenal” datang pada mereka.
Lalu bagaimana?
c. Kerendahan
hati adalah satu-satunya cara menghilangkan “ironi Nazareth” ini dalam diri
kita. Jika orang terdekat kita, terutama yang amat menghargai
persahabatan dan kekeluargaan, berhasil menasihati atau menegur kita, percayalah,
ia melewati pergulatan batin yang amat sulit untuk bisa “pulang dan
menyampaikan kebenaran pada saudara dan sahabatnya”. Di dalamnya, Tuhan
Yesus yang pulang ke Nazareth memberkati perjumpaan dan percakapan itu secara spesial.
Bersukacitalah, dan terimalah itu sebagai berkat yang indah dari Tuhan.
d. Lagipula,
“pulang ke Nazareth itu sebenarnya tidak mudah”. Sahabat dan keluarga kita sebenarnya selalu
melihat sisi positif dari hidup kita. Jadi, kalau mereka sampai menegur dan
dengan susah payah “pulang ke hati kita”, itu berarti kesalahan yang kita
lakukan sudah benar-benar serius, dan butuh pembaharuan utuh.
Jangan jadi ironis seperti Nazareth.
Lublin – Polandia, 7
Juli 2024
Rm. Valerian Karitas,
Pr.

Komentar
Posting Komentar