KASIH PUTIH: MEMBASUH KAKI


Kita belajar dari Ekaristi TUHAN tentang cara mencintai:

1.     Kasih Ekaristi mengalir dari Hati yang Putih.

-   Dalam Ekaristi, kita memandang hati TUHAN yang putih, Hati yang penuh dengan niat menyelamatkan dan menjaga kita.

-      Maka pertanyaan untuk kita setelah Ekaristi, setelah TUHAN ada di hati adalah: seputih apa hatimu?

-  Hati putih adalah hati yang bersedia mencintai persaudaraan, mencintai keluarga, mencintai kepercayaan, mencintai perdamaian, mencintai kebenaran, mencintai semua yang bisa menjadikan saudara-saudari dan duniamu makin baik.

-      Oleh karena itu, siapapun yang merayakan Ekaristi, seharusnya pulang dengan hati yang putih, seperti hati TUHAN.

2.     Kasih Ekaristi adalah kasih dari hati yang diberi.

-      Dalam ekaristi, TUHAN memberi diriNya untuk “hidup” kita. Karena itu, pusat kasih, yang pertama dan utama, adalah hidup, dalam segala kesucian dan kehormatannya. Kasih sejati selalu menghormati kehidupan.

-   Maka tidak ada kasih yang merobek orang dari masa depannya, tidak ada kasih yang merobek orang dari keluarganya, tidak ada kasih yang membuang orang dari hak hidupnya.

-        Kasih, dalam Ekaristi, berarti hati yang diberi,  bukan ambil hati.

3.     Puncak kasih Ekaristi dalam “membasuh kaki”.

-         TUHAN jadi pelayan dengan membasuh kaki para muridNya.

-         Buah sejati Ekaristi adalah pelayanan dalam kerendahan hati.

-  Tetapi dalam hidup, membasuh kaki selalu sulit: karena kita takut disebut murahan, tidak punya harga diri.

-      Di hadapan kasih, ‘basuh kaki’ justru menjadikan kita berharga, seperti TUHAN dalam ekaristi.

-    Puncak perjuangan kasih kita adalah memastikan kita jadi penjaga keluarga, masyarakat, Gereja, dan hidup. Jangan sampai keluarga kita jadi kotor, jangan sampai masyarakat kita jadi kotor, jangan sampai Gereja kita jadi kotor, jangan sampai, kita jadi kotor.

               -     Dari pembasuhan kaki, dari TUHAN yang memberi DiriNya dalam Ekaristi, kita belajar: kalau bukan kita, siapa lagi?

Tanyakanlah kepada hatimu: setelah ekaristi: seputih apa hatimu?

 

Lublin – Polandia, 17 April 2025

Kamis Putih

Rm. Valerian Karitas, Pr

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MENGAPA RASA SYUKUR BISA TIDAK ADA DI HATI?

BERBAHAGIALAH

SUDAH (BARU) 5 TAHUN