GOLGOTA DI HARI SABTU



 (hanya membayang-bayang)

Ada angin, lembut tapi kering, mencoba mengganggu bersemayamnya butir-butir pasir yang kemarin pasrah diinjak-injak massa. Dengan ringan, mereka memenuhi udara, menari-nari dengan sedih, entah akan mendarat di mana lagi. Tersisa, yang enggan terbang, menggumpal sejalur, menghitam beku bersama darah yang kemarin merah membasahi mereka. Mereka berjejer panjang, mungkin berharap bisa terbang juga menjemput rayuan angin kering, tapi siapa yang bisa menolak bekas gumpal darah? Makin kering, makin menghitam, makin kuat menandai luka-luka yang pernah ada.

Beberapa tonjol karang terlihat memutih cerah, bergesekan dengan sandal dan kaki yang berjalan cepat, bersesak-sesakan. Ranting-ranting semak masih patah, layu, menolak bangkit setelah diacak-acak dan diinjak.

Setelah kengerian itu, semuanya telah pulang. Hari Sabat. Tidak boleh ada aktivitas. Hari itu, adalah hari TUHAN.

Selain desir angin, sepi. Hening, merayap, mencoba sia-sia menjahit luka-luka menganga sisa kemarin. Matahari, dengan kuning yang masam, memantulkan hinaan, cacian, teriakan, kemarin dari celah-celah karang dan bebatuan yang kini hening.

Kini, rasanya lebih jelas di telinga. Bahkan untuk yang kemarin tak sempat ke Golgota, ‘tempat kejadian perkara’ ini terlihat sangat jelas, bahkan lebih jelas dari kemarin. Sepi memang membuat segalanya lebih jelas.

***

Secepat waktu, secepat itu pulalah hati manusia melupakan. Mereka bisa galau hari ini, gembira kemarin, bersorak minggu lalu. Mereka bahkan bisa berubah saat kau datang, terutama jika sebelumnya mereka membicarakanmu. Mereka bisa beribadah aman dan taat hari ini, dan kemarin baru selesai menyoraki Orang sampai mati di salib.

Namun, bumi, seperti biasa, tidak lupa. Ia setia mengukir luka-luka itu di wajahnya. Ia setia, menjadi angker bila kengerian pernah terjadi, menjadi damai dan sejuk bila mukjizat pernah terjadi, menjadi terkutuk bila kekejian pernah terjadi. Ia menyimpan cerita, utuh tak berubah, dan selalu siap mengulanginya jika perlu.

***

Salib yang tegak lurus dengan angkuh, kini menghitam dengan bekas darah, kosong. Tubuh-tubuh itu telah diungsikan, bukan demi Mereka, tapi demi Sabat, demi TUHAN. Di sebelahnya, batu bulat masam tegak berjaga, menantang siapapun yang melawan kematian. Oh, akhirnya ada manusia, beberapa prajurit, rupanya. Mereka ditugaskan berjaga. Tapi, bahkan wajah garang mereka pun kosong. Hening. Jelas, jangan coba-coba mendekat, apalagi mengganggu Siapa yang ada di balik batu besar itu.

“Namun maut tidak dapat menahan TUHAN. Dari kuburNya bangkitlah kehidupan. Cinta Yesus lebih kuat daripada maut”. (Perhentian XIV Jalan Salib TUHAN. Madah Bakti)

Lublin - Polandia, 19 April 2025

Rm. Valerian Karitas, Pr

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MENGAPA RASA SYUKUR BISA TIDAK ADA DI HATI?

BERBAHAGIALAH

SUDAH (BARU) 5 TAHUN