Dunia Kita Bukan (Hanya) Medsos

 



Yoh 17:11b-19

Ya Bapa yang kudus, peliharalah mereka dalam nama-Mu, yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu sama seperti Kita. (Yoh 17:11b)

 

1.     Media Sosial dan Kehilangan

Doa Tuhan Yesus dalam injil berisi permohonan, agar para pengikutnya tidak kehilangan. IA ingin agar mereka tetap bersukacita dalam dunia mereka, dalam hidup dan perjuangan mereka, dan dalam TUHAN.

Sadarkah kita, bahwa saat ini seluruh dunia kita adalah “media sosial”?

Kita sekarang menjadi lebih depresi pada sesuatu yang kita nikmati dari media sosial. Kita lebih mudah menjadi cemas, tersinggung, takut, marah, putus asa, dan sakit, hanya karena apa yang kita lihat di media sosial. Apa yang dahulu menjadi pelarian, kini malah menjadi seluruh dunia untuk kita, dan dari situ kita mengukur seluruh keadaan batin kita.

Kita menjadi lebih jahat, kehilangan kontrol atas diri dan pertimbangan untuk memaki, menghujat, memfitnah, dan dan berbagi kebencian; segala sesuatu yang memungkinkan kita tidak perlu bertanggung jawab atas apa yang kita sampaikan.

Kita menjadi lebih percaya diri di media sosial, mengukur ketampanan dan kecantikan, kehebatan, semua hal. Kita menjadi lebih bangga dengan tag, mention, foto-foto yang ditandai, daripada ucapan terima kasih yang sampai di telinga, atau senyuman di jalan; segala sesuatu yang mudah dimanipulasi, entah dengan kata, maupun filter kamera handphone.

Ketika diandaikan kita memiliki semua hal yang memudahkan kita saat ini, kita malah kehilangan segala sesuatu. Kita kehilangan dunia nyata, kita kehilangan perjuangan yang lebih bermakna, kita kehilangan jati diri, kita kehilangan rasa kemanusiaan, dan kita kehilangan dunia, sesuatu yang Tuhan Yesus takutkan dalam doaNya.

 

2.     “Kita dipelihara oleh Allah”

Doa Tuhan mengingatkan kita pada suatu kenyataan yang tidak pernah tergantikan oleh teknologi secanggih apapun: “kita dipelihara oleh Allah”. Ketika Tuhan menyiapkan segala sesuatu untuk memastikan kita tetap berbahagia, untuk apa kita berlari pada “ápa kata media sosial”?

Jika media sosial membuatmu depresi, matikan saja handphonemu, matikan saja media sosialmu, atau setidaknya, filter saja apa yang mau engkau lihat. Duniamu yang ditelah diberkati secara sangat istimewa oleh TUHAN jauh lebih indah dari story dan status.

Setelah filter wajah dan filter kata, tambahkan filter jiwa ke akun-akun media sosialmu. Filter untuk mengurangi cara melukai orang lain, filter untuk setia pada kebenaran, filter untuk berpikir dahulu sebelum menerima atau membagikan apapun.

Dunia nyata kita: keluarga, teman, sekolah, - adalah dunia sesungguhnya sebagai tempat kita menikmati Rahmat Allah. Saat kita sedang depresi, orang-orang di dunia nyata jauh lebih punya hati, dan kita bisa memilih siapa yang bisa mendengarkan kita. Itu selalu lebih bermanfaat daripada mengumbar story atau status.

Bagian paling penting adalah “kita dipelihara oleh Allah”, bukan oleh media sosial.

Setelah dipelihara oleh Allah, jadilah orang yang membawa sukacita itu dalam semua bentuk perjumpaanmu, di media sosial dan terutama di dunia nyata.


Lublin, Polandia, 12 Mei 2024

Minggu VII Paskah, Hari Minggu Komunikasi Sosial

Rm. Valerian Karitas, Pr

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MENGAPA RASA SYUKUR BISA TIDAK ADA DI HATI?

BERBAHAGIALAH

SUDAH (BARU) 5 TAHUN