NATALKU ADALAH ENGKAU
NATALKU ADALAH ENGKAU
Aku mencari natal yang kian lambat menghampiriku di masa
ini. Aku mencari natal, tapi dia rupanya lari, pergi tanpa jejak seperti angin
Desember yang sukses menumbang batang-batang perkasa penguasa hutan-hutan kita.
Aku mencari natal, ia rupanya masih malu-malu, mengintip sambil mengirimiku
hadiah kedamaian dan cinta, ibarat penggemar rahasia yang tak ingin ketahuan.
Aku mencari natal, dia ada, ah, damaiku membubung, tapi dimana?
Oh, ini rupanya. Sekelompok remaja sibuk meletupkan
semangat (katanya) yang sukses memenuhkan separuh rumah sakit spesialis jantung
dan shock bagi dada dan telinga yang tak siap atau mungkin melamun dan
merenungi diri dalam ketenangan. Dentuman meriam, petasan, mercon dan entah apa
namanya yang lain menjadi teman setia bagi telingaku. Yah, ini Natal, gumamku
sambil menyimpan sedikit tanya. Entah apa hubungannya, tapi inilah Natal, kata
mereka, kata kotaku. Maka penuhlah setiap emperan toko dengan deretan kembang
api dan mercon. Bambu-bambu yang riang menyambut hujan Desember ditumbangkan
paksa, dilubangi dan mulai berdentum membelah Natal. Yah, membelah Natal, lalu
membelah gembira menjadi dentum-dentum penyesak telinga. Ada bahagia, katanya,
di situ, dan itu Natal. Yah....
Oh iya, ini juga Natal. Rumah-rumah panggung kecil mulai
berderet-deret, berlomba memenuhi setiap pinggir jalan, di depan hampir setiap
rumah. Beberapa tak tanggung-tanggung, besarnya hampir menyamai kandang Kambing
di rumah kami. Katanya, itu kandang Natal, tempat bersemayam Sang Bayi TUHAN
agar tak usah ke mana-mana, cukup menghangatkan diri di hati mereka. Sekelompok
pemuda dan pria paruh baya bercengkerama menjaga kandang natal, menenangkan DIA
yang mungkin menangis dan menggigil menyambut dingin gerimis dan gagal ditenangkan
sang Bunda. O la la, mereka punya
penangkal ngantuk. Sebotol, maaf, tiga botol aqua berisi (mereka menyebutnya) sopi menemani malam yang dingin, kartu dikeluarkan, dan dimulailah
segalanya. Bila kepala badan mulai kehilangan keseimbangan, keluarlah speaker
berderet-deret, microphone dipasang, volume disetel sekeras-kerasnya, sampai
bunyi klik di ujung tulisan max pada tombol-tombol amplifier. Sejenak kemudian,
alunan lagu-lagu karaoke tak keruan mulai menyakitkan jangkrik. Rata-rata lagu
lawas, dengan nada-nada sumbang, serak-serak banjir setelah alkohol penuh dalam
dada. Keluarga Muda, bertiga di dalam kandang, memandang dengan sayu. Rupanya
setelah begitu lama, mereka tetap bertiga, ditemani kambing dan domba. Ini juga
Natal, katanya.
Aihh ada yang bagus, kerlap –kerlip itu. Yah,
mungkin ini yang mungkin layak disebut Natal. Ibarat bintang yang jatuh dan
lupa naik lagi, mereka berserakan di seantero kota. Merayap menemani malam Sang
Juru Selamat, seolah tersenyum untuk ikut mendandani hati para penyambutNya. Sayang
sungguh disayang, rupanya nyalanya terlalu terang. Katanya, bukan tanpa sebab
malam dihikayatkan pada kegelapan, juga bukan tanpa sebab hitam didandani pada
malam. Setelah terang-terang itu naik, kita lupa menyalakan pelita di dalam
hati, pelita di dalam rumah. Akhirnya,
Natal tetap Natal, seperti kali lalu, seperti sebelumnya, seperti sebelumnya. Ramai,
tapi tak pernah sanggup mengisi kekosongan yang kian parah menggelapkan hati
kita. Setelah bintang- bintang itu kembali ke peraduannya di dalam
lemari-lemari, bingkisan-bingkisan berisi jenazah (sangat mungkin) kembali
jadi hadiah Natal untuk kita, setiap orang dapat dengan mudah kembali menipu,
kembali mencuri, kembali serakah, tangisan-tangisan kelaparan dan ketidakadilan
akan kembali bergema. Hati kita lupa dinyalakan. Panorama berubah menjadi
semacam gosip dari wanita genit di sudut pasar yang kebetulan diberi nama
manis, Cahaya. Ia sukses membuka pada setiap telinga dan mata segala keburukan
dan kebohongan yang dibungkus dalam Natal. Yah, itu Natal juga, katanya.
Aiih...
Lalu aku terhenyak dan lelah. Gerimis ini mendinginkan
hatiku. Engkau juga tak kunjung datang. Sudahlah, aku paham kesibukanmu. Aku
juga tahu hatimu untukku dan untuk kita. Aku lalu hanya duduk saja di pinggir
jalan, memandang riak air langit yang enggan bergerak setelah menerpa aspal
hitam di hadapanku. Dan kemudian….
Seorang nenek menggamit lengan cucunya, berjalan dalam
langkah senyum melawan gerimis. Aiih ia tersenyum padaku, mengucapkan selamat
Natal. Aku bertanya penuh keheranan, mungkin pernah bertemu atau berkenalan di
suatu masa dulu. Ia menjawab “tidak” sambil berlalu, ditarik cucunya menuju
sebuah kios untuk membeli terompet tahun baru yang dijual Mas Ahmad yang, saya baru ingat, tidak
merayakan Natal seperti kita. Aku bahkan membeli Rosario kesayanganku di toko
kecilnya. Aiih indahnya negeriku, celotehku pada hatiku.
Seorang wanita cantik centil jelita, memandang
malu-malu dari sisi samping rumah. Melambaikan
salam pada hatiku yang mendadak berbunga
dan terbang ke langit ketujuh. Rasanya beda, mungkin Desember membuat
senyumnya agak lain, tidak genit atau penuh pesona asmara seperti biasanya. Ada
sesuatu yang memikul senyum dan lambaian itu, dan ia menembus hatiku dengan
kedamaian, bukan pesona.
Aduh, sedang asyik-asyiknya menatap lambaian, HPku
bergetar hebat melawan dingin. Rupanya mama menelpon. Adik kecilku tak
ketinggalan, meneriakkan kata-kata yang sayup-sayup terdengar seperti “baju,
sepatu, dan Natal”. Hmm, mendengar mereka, hidupku seperti dipugar lagi,
kembali menemukan jalannya di ujung Desember. Aku jadi paham mengapa Tuhan
lahir di bulan Desember. Ia tahu, aku terlalu cepat putus asa…
Haaa, jadi, Natalku ternyata engkau, bukan Desember,
bukan aku saja….
Pastoran
Katedral Ruteng, 24 Desember 2021
Pada
pagi, yang mulai enggan tersenyum
Rm.
Valerian Karitas, Pr
Great words romo
BalasHapus