“MELEMPAR API: BERIMAN DI TENGAH ORANG DEKAT”

 Luk 19:49-51 

Aku datang untuk melemparkan api ke dunia, dan Aku berharap api itu sudah menyala! Akan tetapi, ada baptisan yang harus Aku jalani, dan Aku merasa sangat tertekan sampai hal itu digenapi. Apakah kamu menyangka bahwa Aku datang untuk membawa perdamaian di atas bumi? Tidak, Aku mengatakan kepadamu, melainkan perpecahan! Mulai sekarang, lima orang dalam satu keluarga akan dipisahkan. Tiga orang akan melawan dua orang dan dua orang akan melawan tiga orang. Mereka akan dipisahkan; Ayah akan melawan anak laki-lakinya, dan anak laki-laki akan melawan ayahnya. Ibu akan melawan anak perempuannya, dan anak perempuan akan melawan ibunya. Ibu mertua akan melawan menantu perempuannya, dan menantu perempuan akan melawan ibu mertuanya."

 

1.   “Api, perpecahan, melawan”. Saya membayangkan, bahwa ini bukan saat teduh, tapi saat “provokasi”

2.   Menilai situasi:

a. Ada berapa dari kita yang pernah dimusuhi atau digosipkan, dijauhi ketika mengatakan atau melakukan sesuatu yang benar?

b. Tahukah anda, 99,99% dari mereka yang memusuhi kita adalah orang dekat: entah teman, keluarga, bahkan pasangan atau kekasih?

c. Kebanyakan dari kita memilih diam, atau curhat ke TUHAN, tapi tidak bisa berbuat apa-apa.

d. Takut kehilangan, jauh lebih mengerikan daripada takut dimarahi atau dimusuhi.

e. Maka: ada berapa banyak dari kita yang menjadi korban persahabatan yang toxic, korban asmara dan bahkan pernikahan yang malah lebih mirip neraka daripada surga, tapi tidak bisa berbuat apa-apa, korban sakit hati dan trauma dalam keluarga?

3.   Inspirasi injil:

a. Yesus mengajarkan kita tentang keberanian iman: ternyata ada kebenaran yang menyakitkan.

b. Kebenaran ini menjadi api, bercahaya tapi panas, kelihatan tapi akan membakar. Api ini menempatkan hati kita pada pilihan sulit, kalau dikatakan atau dibuat, pasti akan membakar, tapi kalau tidak dikatakan, malah akan terus gelap.

c. Berani memilih ikut Yesus, berarti memilih menjadi api. Berani mengatakan kebenaran dan melakukannya, meski itu mungkin akan membakar.

4.   Apa yang mesti kita lakukan?

a.    Yesus sedang menantang kita: dalam kedekatan yang toxic, apa terus diam, atau memilih jadi api?

b.   Apakah kita berani menerima “kebakaran”, tetapi dengan itu keluarga kita, kekasih, pasangan, teman, terpaksa “mengerem”, dengan banyak bicara dan bahkan kasar memang, tapi kita pastikan ada yang berubah ketika mereka tahu, keburukan mereka dibicarakan atau diganggu.

c.    Manusia pada dasarnya paling takut jadi bahan pembicaraan. Itulah sebabnya kebenaran selalu jadi api.

d.   Prof. Albus Dumbledore: “It takes great deal of bravery to stand up to your enemies, but it takes great deal more to stand up to your friends”. (Harry Potter I)

e.    Ikut TUHAN, berani jadi api.

 

Lublin, Poland, 1 November 2023

Rm. Valerian Karitas, Pr

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MENGAPA RASA SYUKUR BISA TIDAK ADA DI HATI?

BERBAHAGIALAH

SUDAH (BARU) 5 TAHUN