MINTA YESUS
Rm. Valerian Karitas, Pr
“Romo, bisa minta tolong kah?”
Ibu muda, dengan nafas terengah-engah, menemui saya di
sakristi Gereja setelah misa pertama malam natal. Ia menggendong putranya yang
tidak berhenti menangis sambil meliuk-liukkan badan, dengan tangan mungil yang
tidak berhenti memukul kecil ibunya. Usianya si kecil mungkin sekitar empat
atau lima tahun, sudah cukup besar untuk mengeluarkan tenaga yang amat
merepotkan ibunya.
Misa pertama baru saja selesai. Koster gereja tergopoh-gopoh
membereskan perlengkapan misa dan menyiapkan semua perlengkapan untuk misa
berikutnya. Ia terlihat tergesa-gesa, menyelinap sambil berulang-ulang kali
menyebut “permisi” pada saya, ibu pemazmur yang mendengungkan nada untuk
terakhir kali sebelum tampil, misdinar yang sibuk selfie setelah tugas misa
pertama, para petugas misa berikutnya yang sudah mulai berdatangan dan
berceloteh tentang hujan repis yang tiba-tiba turun waktu mereka masih
di jalan, dan ibu muda yang kelihatan lelah dan hampir menyerah menenangkan
anaknya itu.
“ada apa, kaka?”.
“Anak saya ini menangis terus dari tadi Romo. Saya bisa
minta doa dan berkat untuk dia, kah?”
“Wah, boleh, kaka. Dengan senang hati”, jawabku cepat sambil
tersenyum. “tapi kenapa dia menangis?”
“Aduh, Romo, sejak awal misa tadi, dia menangis minta bayi
Yesus yang ada di palungan itu, Romo”.
Sedikit terkejut, aku membayangkan betapa anehnya permintaan
itu. Mungkin si kecil pikir itu mainan, atau boneka yang bisa digendong.
Apalagi, patung bayi Yesus di gereja itu memang menarik sekali, baru diberi
oleh sebuah keluarga beberapa minggu lalu. Patungnya hampir seukuran bayi
manusia, dengan pola ukiran yang sangat indah, dan wajah damai seorang anak
kecil. Mata siapapun yang melihat patung kecil itu, pasti akan terpesona oleh
keindahannnya. Tidak heran, anak ini menangis memintanya.
Mendengar permintaan yang menyungging senyum sekaligus
mustahil, satu per satu mereka yang ada di sakristi berbalik, memandang dan
mendekat ke arah kami. Ibu pemazmur merogoh sakunya, mengeluarkan permen mint
yang sebenarnya dia siapkan untuk melegakan tenggorokan sebelum bernyanyi.
Koster meminta izin memberi patung bayi Yesus kecil yang sudah usang dari Gudang Gereja. Anak-anak misdinar dengan
ceria mencoba menenangkan adik kecil mereka itu dengan mengajaknya tertawa.
Ketika “mau Yesus” yang mustahil itu diminta, semua mencoba
menghibur, memberi pengganti yang lebih mudah diberi tanpa masalah. Si kecil
tetap gigih, menolak sambil terus-menerus menangis dan meliuk-liukkan badan
kecilnya. Ibunya sibuk menenangkan, meski kelihatan makin sulit. Ia seperti
kehilangan akal, tidak tahu mau bagaimana lagi menenangkan putra kecilnya.
“Dee, Romo, dari tadi semua juga bantu begini, tapi dia
tidak mau Romo. Baru pertama kali begini juga Romo, makanya saya agak takut dan
datang minta berkat Romo”, ibu bercerita di tengah usahanya menenangkan
anaknya.
Tentu saja saya mau mendoakan dan memberkatinya, tapi tidak
enak juga rasanya jika ‘hanya berdoa, buat berkat sedikit, lalu pergi’ tanpa
memastikan, sekurang-kurangnya sedikit, bahwa situasi anak ini bisa lebih
tenang. Si kecil tadi masih terus-menerus menangis, kadang sampai berguling di
lantai sakristi, sebelum ditarik dan dicoba untuk ditenangkan kembali oleh
ibunya. Ibu-ibu petugas misa yang lebih ‘senior’ dalam urusan anak mulai
mencoba ‘taktik’ dari pengalaman mereka bertahun-tahun sebagai ibu, mencoba
menenangkan anak itu. Semuanya sia-sia. Anak itu tetap menangis, meminta bayi
Yesus di palungan.
“Mana Bapanya?”
“ada di mobil Romo, dia keluar duluan, tunggu di mobil”.
Saya memikirkan kemungkinan untuk menenangkannya. Kuputuskan
dengan cepat, saya tawarkan untuk membawanya ke kandang natal. Ibunya setuju.
Kami lalu masuk ke Gereja. Gereja masih belum ramai, baru ada beberapa umat
yang datang dan duduk. Di depan kandang Natal, anak itu mulai tenang, rupanya
ia berpikir, permintaannya akan dituruti.
“kalau ini dede Yesus nana bawa pulang, nanti
mamanya ini (saya menunjuk ke patung Bunda Maria) dan bapanya ini (saya
menunjuk ke patung St, Yoseph) dengan siapa? Begini sudah, pegang sedikit saja
em?” saya mencoba membujuknya. Wajahnya sedikit berubah. Rupanya ia baru sadar,
di kandang natal itu ternyata ramai, dede Yesus tidak sendiri. Di dalam
gereja juga ramai. Entah mengapa, anak kecil itu mengangguk pelan, tangisnya
sudah hilang.
Kami berlutut, lalu kaki mungilnya beringsut mendekat ke
kandang Natal. Ia memegang kaki kecil bayi Yesus, mengusapnya dengan lembut
dengan wajah tersenyum, lalu kembali memeluk ibunya. Saya mendoakannya dan
memberi berkat. Setelah mengucapkan terima kasih, ibu dan anak itu pamit dan
pulang. Gereja sudah semakin ramai, beberapa menit lagi, misa kedua dimulai.
Setelahnya, bahkan sampai hari ini, saya masih terus
bertanya-tanya, apakah misa malam itu ‘berhasil’ atau ‘gagal’. Apakah
permintaan aneh itu datang karena indahnya perayaan malam natal itu, atau
memang karena ‘tidak ada Yesus di rumah’?.
Sebentar lagi, misa kedua dimulai. Mudah-mudahan tidak ada
lagi permintaan aneh. Minta Yesus. Setelah misa. Aneh kan?
Pieniezno, Polandia, 24 Desember 2024
Dengan gemuruh mimpi tentang Natal

Komentar
Posting Komentar