PENAKU BERNYALA
“Kapten, penaku
bernyala!”
Kalimat itu menggema di
lorong rumah sakit, membelah pagi yang sejuk dan tenang, disaat semua orang
sibuk dan nyaman dengan kesibukan pagi yang indah dan bersemangat. Tentu saja
semua orang berbalik dan mencari tahu siapa yang berteriak sepagi itu, tetapi
itu hanya berlangsung sebentar, karena orang-orang yang lama berada disitu
segera memahami situasi, meninggalkan beberapa pasien dan pengunjung baru yang
bertanya-tanya tentang teriakan dan orang yang berteriak tadi. Seorang anak
kecil mencoba menggamit ibunya dan menanyakan hal tersebut, tetapi si ibu
rupanya sedang tidak mau diganggu anaknya, lalu ia menakut-nakuti anaknya
sampai si anak terdiam dan tidak berani bertanya lagi. Seorang pengunjung yang penasaran akhirnya
bertanya penuh panasaran kepada perawat kebetulan lewat. Memasang tampang tak
ingin diganggu, perawat itu berkata singkat: “Gila...”, lalu pergi tanpa
berkata apa-apa lagi. Kerumunan orang penasaran itupun bubar dengan jawaban
singkat, padat, dan jelas itu. Aktivitas pun kembali normal, seperti hari-hari
biasanya di rumah sakit itu. Di sudut ruangan, seorang ibu tua sibuk menenangkan seorang lelaki berpakaian
lusuh dengan rambut tak teratur. Rupanya dialah yang tadi berteriak dan
mengganggu suasana pagi tadi. Tidak ada lagi yang memperhatikan, tidak ada lagi
yang melihat, bahkan semua orang mungkin sudah lupa kalau si lusuh yang
berteriak dan membuat sensasi dipagi itu ada disekitar, bahkan diantara mereka
disitu. Si lusuh kemudian diantar masuk kedalam ruangan untuk diperiksa. Aku
tertegun menyaksikan semuanya itu, lalu dengan cepat mengerti bahwa begitulah
suasana Rumah Sakit, begitulah suasana kota, bagitulah suasana dunia ini....
*******
“Kurang ajar, apa saja
kerjamu di rumah hah!?? Tidur!? Pesiar!? Ngobrol!?... ditanya segampang itu
saja tidak dijawab!!!”
Teriakan membahana
kembali menusuk telingaku pagi itu. Tempatnya bukan di rumah sakit lagi, tetapi
di ruangan yang seringkali menjadi momok para pencinta kebebasan modern dan
para miskin papa yang tidak sempat mengetahuinya, atau para pencuri level kakap
yang bahkan rakus menjarah milik orang lain, sebab tempat itu seringkali
menjadi saksi bisu makian dan hujatan untuk mereka. Ruangan yang (konon) penuh
ide dan ilmu. Ruangan yang tentu pernah kita kenal.
Seisi ruangan tertegun dan tunduk. Temanku yang
tadi dimarahi tertunduk malu, kami yang lain terdiam, mencoba berharap pak Guru
juga tidak menanyai kami, karena belum tentu kami bisa menjawabnya.
“Baiklah untuk kalian
semua, sebutkan salah satu tokoh sastrawan Balai Pustaka...”
Kami semua terdiam dan
tunduk. Tak ada satupun yang mencoba mengangkat tangannya. Akupun tidak.
“Andhika, coba jawab pertanyaan bapak”.
Tiba-tiba aku merasa darahku berdesir mendengar namaku disebutkan dalam
keheningan. Tentu saja aku yang akan ditanya, karena menurut orang-orang, aku
mempunyai minat yang baik dalam sastra. Aku hanya bisa terdiam. Dalam hati aku
menggerutu, buat apa ditanya hal-hal ketinggalan zaman begini? Ingin rasanya
aku memprotes. Kalau yang ditanya sastrawan modern mungkin bisa kujawab dengan
mudah. Tanyakanlah Ayu Utami, atau Dewi “Dee” Lestari, W. J. S. Rendra, atau
Andrea Hirata, itu semua pasti kujawab dengan mudah.
“Kamu semua bodoh!, ditanya segampang itu saja
tidak bisa! Apa saja yang kalian pelajari selama ini hah!!?”
Kami semua tertunduk
malu dan takut. Tentu saja aku memahami, mengapa kami semua tidak bisa
menjawab. Kami hanya tahu grup-grup band terkenal, atau artis-artis paling
tenar dengan segala cara yang mereka miliki, atau para pesepakbola tenar yang
namanya harum sampai pelosok bumi. Kami tidak punya waktu dan niat untuk
mempelajari hal-hal ’jadul’ seperti itu.
Pergulatan batinku sampai pada pemberontakan
antargenerasi. Tidak kuperhatikan lagi penjelasan pak Guru didepan. Aku mulai
keasyikan dengan pikiranku sendiri. Kawan, aku mulai setuju untuk meninggalkan
hal-hal ketinggalan zaman seperti pertanyaan tadi. Tempat untuk itu seharusnya
di museum, bukan dalam otak generasi muda yang modern. Takkan ada kantor atau
perusahaan yang mempekerjakan orang dengan keahlian sastra zaman kuno seperti
itu. Takkan ada yang peduli dengan pengetahuanmu tentang sastrawan-sastrawan
tua bangka kehilangan taring di era globalisasi seperti itu. Takkan ada sesuap
nasi atau selembar rupiahpun yang akan ditransfer dari masa lalu sebagai
ungkapan terima kasih. Singkatnya, tidak akan ada hal berguna yang bisa kau
pelajari dari hal tersebut.
Aku bertaruh kawan, jika ada yang meneriakkan
slogan “jasmerah”nya Bung Karno yang konon keramat untuk sejarah bangsa kita
tercinta ini ditelingaku, yang akan kuingat hanya sejarah pertarungan fisik dan
intelektual bangsa ini selama empat ratus tiga puluh empat tahun sejak
kedatangan Portugis pada tahun 1511, atau rentangan waktu zaman feodal
tradisionalis Kerajaan Hindu-Buddha dan Islam. Tidak ada tempat bagi sastrawan-sastrawan
‘sialan’ yang sukses mempermalukan aku siang ini. Paling-paling karya mereka
pasti “mellow total” seperti kisah hampir semua sinetron di televisi negeri
ini, atau penuh hujatan dan makian seperti “bingkisan neraka” buat para
koruptor dan teroris yang semakin meraja lela dan berlipat ganda seolah-olah
tidak pernah habis. Singkatnya, aku tidak peduli dengan semuanya itu. Aku ingin
hidup di zamanku, merasakan keindahan dan kebaikan zamanku ini. Aku ingin
menata masa depan di zamanku ini, bukan bernostalgia dengan apa yang bahkan
tidak kualami, bukan melamunkan apa yang tidak kuketahui sama sekali.
“Andhika, kamu dengar tidak !?”, suara
menggelegar bagai petir di siang bolong kembali mengagetkanku. Entah sejak
kapan, tiba-tiba pak Guru sudah berdiri tepat didepanku dengan tampang yang
sulit kulukiskan, intinya menyeramkan. Aku begitu kaget sampai terjatuh dari
kursi tempat aku duduk, sehingga tawa riuh rendah pun memenuhi ruangan kelas.
“Pertanyaan tentang tokoh sastra tadi menjadi
tugas untuk minggu depan”. Seorang sahabat berbisik kepadaku diluar kelas. Aku
pun berterima kasih dan segera pulang ke rumah karena malu.
Malamnya, aku duduk di depan layar laptopku,
mencoba melanglang ke dunia maya yang konon tidak mengenal batas dalam hal
apapun. Dunia maya memang selalu menjadi kesenangan sekaligus kebutuhan penting
bagiku saat ini. Inilah produk dunia modern yang paling diminati saat ini.
Seperti biasa, aku mulai dengan membuka facebook,
lalu membuka layar baru untuk mencari video musik klasik dan Rn’B kesukaanku di
youtube, baru kulanjutkan dengan
membaca komik kesayanganku yang versi online terbarunya selalu ada setiap akhir
pekan. Sudah kukatakan tadi kawan, tidak ada waktu bagi generasi modern untuk
memikirkan masa lalu, apalagi sastra sialan yang tak berguna tadi. Lantaran tak
ada lagi yang harus kukerjakan di dunia maya, akupun bermaksud menutup laptopku
dan pergi tidur. Entah mengapa, wajah sangar pak Guru tadi siang kembali
menghantuiku. Bisa bahaya kalau tugasnya tidak segera diselesaikan. Dengan
semangat yang hampir padam, aku mulai membuka google dan mengetik sejarah sastra di kolom search. Satu persatu hasil pencarian mesin pencari mutakhir ini
kubaca, samapai pada satu bagian yang mengubah seluruh arah pikiran, hati, dan
bahkan hidupku...
*****
“Bu, karangan bunga
yang ini berapa?”
“Ooh empat puluh lima
ribu, mas”.
Aku merogohkan saku, mengeluarkan uang dan
segera membayar. Karangan bunga itu kuletakkan di belakang jok mobilku, lalu
aku menyetir mobilku menuju pekuburan tua. Aku turun dari mobil dan pergi ke
sebuah pusara yang mungkin sudah berkali-kali kukunjungi. Kuletakkan karangan
bunga di makam sederhana itu. Di batu nisan terpahat tulisan “Abimanyu Sanjaya”.
Nama orang yang tidak pernah kukenal baik kecuali dalam beberapa detik akhir
hidupnya. Nama yang tidak pernah pernah punya hubungan apa-apa denganku kecuali
sebagai sesama penulis, nama yang sangat membingungkan lantaran tidak dikenal
orang. Aku bersimpuh di samping makamnya dan memulai litani yang seringkali
kutulis dan kuucapkan untuknya di makam itu:
“Kawan, malam itu begitu sunyi, hanya cahaya
layar sepuluh inci yang menerangi mukaku yang kusut dan malas karena hampir
larut malam. Tugas sialan itu memang menjengkelkan, engkau pasti sempat bertanya
kepada sang Khalik tentang keluhan dan pemberontakanku saat itu. Entah kenapa
kawan, aku menemukanmu saat itu. Aku menemukanmu, saat engkau bukan lagi raga
lusuh yang tak diperhatikan orang di rumah sakit itu, saat engkau bukan lagi
orang besar dengan akhir hidupmu yang menyedihkan. Engkau bukan Amir Hamzah,
bukan Chairil Anwar, bukan Pramudya Ananta Toer, bukan Sutan Takdir
Alisjahbana, bukan Andrea Hirata, bukan siapa-siapa. Engkau hanya seorang
penulis ketinggalan zaman yang tidak lagi dikenal dunia, tidak lagi dikenal
bangsamu. Engkau menjadi korban keganasan tangan besi para penguasa yang tidak
ingin kekuasaannya diganggu gugat. Engkau sendiri, dikucilkan, dibuang, dan
diinjak. Aku tidak peduli dengan karyamu, engkau pasti tahu itu. Aku tidak
peduli siapa kau, engkau juga pasti tahu
itu. Aku hanya tertarik dan teringat dengan kata-kata terakhirmu, mungkin bukan
untukku juga. Kata-kata terakhirmu sungguh telah mengubahku, mengubah
pandanganku dan mengubah jalan hidupku. Engkau memanggilku kapten, panggilan
kerendahan hati seorang anak buah militer yang tidak pantas kau ucapkan
untukku. Engkau telah menyalakan penamu, berharap nyalanya bisa menghangatkan,
bila perlu membakar semua yang ada disekitarku, termasuk penaku yang saat itu
tidak kugunakan. Kawan, engkau berhasil, penaku telah bernyala, pena keajaiban
yang hendak kita gunakan untuk mengubah diri kita, mengubah negeri kita, dan
mengubah dunia kita. Pena yang membuat siapapun bangga pada goresan
kalimat-kalimat indah yang mengubah negeri kita. Kawan, aku membawa kabar baik.
Sang penguasa lalim telah tumbang, dan engkau telah menang. Kekuasaannya telah
dia bawa ke alam sana, tetapi semangatmu untuk untuk mengubah negeri ini dengan
cara kita terus ada dalam diri kami semua. Penamu telah bernyala dan menyalakan
pena kami semua. Aku berjanji sekuat hatiku untuk terus membiarkan pena-pena
kita bernyala hingga akhir dunia. Terima kasih, kawan”.
Aku berdiri dan
berbalik, di gerbang pekuburan, beberapa pengagum karyaku telah berkerumun
meminta tandatangan pada bukuku yang baru mereka beli. Aku menandatangani semua
itu tepat pada tulisan yang selalu kutulis dalam semua karyaku. Aku telah
menyalakannya. Dan aku akan terus berteriak kepada dunia, meminta dan mengetuk
hati kapten-kapten baru kami, agar nyala ini terus dibawa demi bangsa ini.
“KAPTEN, PENAKU
BERNYALA”.....
Ritapiret, 2 Februari 2013, disudut kamar....
Komentar
Posting Komentar