BARTIMEUS



(Mrk 10:46-52)

 

1.       Pengemis buta bernama Bartimeus itu tidak didengarkan. Ia ada pada golongan paling tidak penting (malah dianggap sampah) dalam masyarakat. Dalam keramaian kota, ketika orang-orang berdesak-desakan melihat Yesus, Bartimeus duduk di pinggir jalan (ay. 46). Ketika engkau menyambut ‘orang penting’, jelas siapapun yang tidak penting pasti dianggap mengganggu. Dalam kasus ini, Bartimeus berteriak, langsung menyebut nama ‘Orang Penting’ itu, dan meminta perhatianNya. Tingkah Bartimeus ini jelas-jelas mengganggu (kecuali waktu kampanye menjelang pemilihan umum, biasanya, pasti kisah seperti ini jadi momen empuk untuk menunjukkan watak ‘kerakyatan’). Dia ada di situ saja sudah mengganggu, apalagi bertingkah. Sudah pasti, tidak akan ada yang mendengarnya. ‘Orang Penting’ itu juga terlampau sibuk untuk sampah seperti Bartimeus, jadi mereka menegurnya dan menyuruhnya diam.

2.     Untuk Bartimeus, pengemis buta yang tak didengar, ‘tiketnya’ adalah dia tahu tentang Yesus. Ia pasti sudah mendengar cerita-cerita tentang Yesus dari orang-orang di kota Yerikho. Sudah pasti tidak ada yang mau bercerita langsung kepadanya, tidak. Dia pasti mengumpulkan keping-keping kisah dari orang-orang yang lewat sambil bercerita (biasanya orang buta cenderung memiliki pendengaran yang tajam dan kemampuan lebih untuk mengingat apa yang mereka dengar). Seluruh keping kisah dia kumpulkan dengan menyebut nama Yesus dengan “Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku” (ay. 47).

3.     Yesus berbalik dan mendengarnya, lalu meminta orang untuk memanggil Bartimeus. Dari permintaan Yesus ini, kitab isa memastikan bahwa jarak antara Bartimeus dan Yesus sudah cukup jauh. Dengan keramaian yang pasti riuh, Bartimeus kemungkinan tidak didengar lagi, tetapi Yesus mendengarnya. Ada dua hal penting yang bisa kita renungkan:

a.     Ketika semua orang tidak peduli dan menganggap Bartimeus sebagai pengganggu yang mesti didiamkan, TUHAN mendengar dia. Bartimeus, yang menjadi contoh iman kita, memegang erat-erat ‘tiket’ ini dalam doanya. Ia tahu baik dari keping-keping cerita yang dia kumpulkan, Yesus adalah mesias (Anak Daud). DIA pasti mendengar dan menolong.

b.     Bartimeus boleh buta, tidak melihat apapun. Tapi, ternyata tidak ada kebutaan yang menghalanginya untuk “melihat” Yesus. Ketika hidup memaksa kita menjadi buta dan segalanya menjadi amat gelap, TUHAN membuka DiriNya untuk tetap bisa dilihat. Bagi Bartimeus yang malang, TUHAN adalah satu-satunya yang bisa dia “lihat”. Kemudian, kita tahu bahwa ‘satu-satunya’ itu ternyata menjadi segala-galanya bagi Bartimeus.

4.     Permintaan Bartimeus adalah salah satu yang paling menarik dalam kisah Injil: “Rabuni, supaya aku dapat melihat” (ay. 51). Lebih menarik, karena ketika Yesus mengabulkan permintaannya, yang ia lihat pertama adalah Yesus. Kini, dia bisa melihat lebih jelas Sang Mesias. Melihat Yesus, bagi Bartimeus, membuka seluruh kegelapannya, dan membuatnya menemukan arah hidupnya kembali. Ia lalu berjalan bersama Yesus.

5.     Sekarang kita tahu, apa yang mesti kita minta, kan?

 

Lublin – Polandia, 27 Oktober 2024

Rm. Valerian Karitas, Pr

Imam Diosesan Keuskupan Ruteng - Flores

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MENGAPA RASA SYUKUR BISA TIDAK ADA DI HATI?

BERBAHAGIALAH

SUDAH (BARU) 5 TAHUN