LUBANG JARUM
(Mrk.
10:17-30)
“Lubang
Jarum” yang dimaksudkan Yesus adalah pintu kecil berlorong panjang pada
gerbang kota kuno, yang berfungsi sebagai pintu keluar-masuk setelah gerbang
utama ditutup (biasanya pada sore hari atau malam hari). Unta dengan beban
dapat dengan mudah melewati gerbang utama yang memang lebar dan tinggi, tetapi jika
harus melewati “lubang jarum” untuk masuk ke kota, mau tidak mau bebannya harus
dilepas dan ditinggalkan. Bagi Yesus, kekayaan orang muda itu
membelenggunya. Ia menjadi terikat dan tidak dapat dengan bebas mengikuti DIA.
Mengapa
pintu iman disebut “lubang jarum” oleh Yesus? Seberapa kuat ikatan terhadap hal-hal
duniawi mengikat dan menghambat kita? Bagaimana harta menjadi penghambat?
1.
Orang muda yang datang kepada Yesus “telah
menuruti perintah TUHAN sejak masa mudanya” (bdk. ay. 20). Yesus mengajukan
syarat yang membuatnya kecewa dan pergi dengan sedih, yakni menjual harta
bendanya dan memberi kepada orang-orang miskin, lalu mengikutiNya (bdk. ay.
21).
2.
Bagi Yesus, harta menjadi penghalang
besar dalam dua hal utama, (1) membuat diri terikat, dan (2) kehilangan
kepedulian. Dalam dunia kita, tidak jarang harta menjadi
penanda status sosial. Orang-orang begitu rajin mengukur hidup mereka dari apa
yang mereka miliki. Harta ini, alih-alih menjadi berkat yang mendekatkan orang,
malah menjadi tembok, mengkotak-kotakkan dan memisahkan orang-orang atas dasar
kelompok, prestise dan posisi sesuai “yang saya miliki”. Pada waktunya,
tembok-tembok ini menutup mata dan telinga, lalu menutup pintu-pintu belas
kasih dan kepedulian, yang secara ironis menjadi “tiket masuk” di “lubang jarum”,
pintu utama menuju TUHAN.
3.
Dengan kegilaan pada uang dan segala
jenis keuntungan yang bisa didapat, orang-orang yang “punya banyak unta” akan cenderung
memikirkan untuk memperbanyak apa yang dimiliki.
Mereka didesain untuk menutup rapat-rapat mata dan telinga, tidak usah peduli
pada keadilan dan belaskasih (berbagi), kalaupun peduli, sedapat mungkin supaya
segala bentuk upaya meraup dan merampas apa saja tidak terganggu alias lancar.
4.
Pengikut Yesus tidak boleh mengikat diri
dan jiwanya pada harta. Selagi berjuang mencari rezeki yang layak
untuk hidup, jangan lupa pada “lubang jarum”, bahwa hanya dirimu yang bisa lewat.
Jangan mengisi dirimu dengan kebusukan, ketika engkau menjadi “tanpa hati”, bersikap
normal atas perampasan hidup orang lain, tidak peduli pada jeritan orang lain, dan
menutup diri ketika harus menolong karena “takut hartamu berkurang, atau mereka
hanya tipu”. Di “lubang jarum”, harta yang engkau banggakan harus
ditinggalkan, dan yang akhirnya bisa lewat adalah dirimu yang telah membusuk dan tanpa hati.
Lublin
– Polandia, 13 Oktober 2024
Rm.
Valerian Karitas, Pr

Komentar
Posting Komentar