BERBAHAGIA VS CELAKALAH

 


Luk 6:17, 20-26

 

1.    Apa itu bahagia?

2.    Tidak pernah lapar (kalau bisa, butuh hari ini, wajib ada hari ini juga), tidak ada masalah (kalau ada, maunya langsung tuntas saat itu juga), tidak ada kesedihan (kalau ada, wajib langsung healing, posting foto dengan jangkauan luas dan fyp, lalu gembira lagi), setiap niat baik wajib lancar tanpa tantangan, tanpa penolakan (kalau tolak, wajib “babat di tempat” sampai dia mengerti, sampai hati puas). Begitu kah?

3.    Apa itu celaka?

4.    Rezeki datang dari kerja keras (kadang butuh waktu), pernah lapar dan sering lapar (selalu harus berjuang), mengurung diri di pojok atau datang ke gua Maria atau Gereja, berlutut sampai lutut melepuh dengan air mata berderai (lama, memeras hampir seluruh diri dan hidup, dan melelahkan, tapi akhirnya perjuangan itu membentuk saya hari ini), dilempar sana-sini, dicap sok suci, mau protes atau marah tapi harus tetap berjuang untuk diam, dijauhi supaya “saya merasa bersalah” atas keputusan dan pilihan saya (padahal dari hati, saya tahu pilihan saya benar).

5.    Benarkah bahagia berarti “tanpa masalah” dan celaka berarti “banyak masalah”?

6.    Tapi mengapa, Tuhan Yesus menggelari mereka yang “banyak masalah” berbahagia, dan menggelari mereka yang “tanpa masalah” celaka?

7.    Mungkin, celaka datang dari pilihan “cepat-cepat mau tidak ada masalah”. Kita jatuh pada pilihan-pilihan yang menawarkan solusi pegadaian “menyelesaikan masalah tanpa masalah”, lalu terjun menggadaikan “kekayaan, rezeki, kegembiraan, dan nama baik”. Kita lalu kehilangan nikmatnya rezeki, keluarga, sukacita, dan prinsip hidup. Celaka sudah.

8.    Mungkin, bahagia datang dari pilihan “berjuang dalam alur”, memilih bersedih, menangis dan lapar dalam setiap tantangan yang ada sambil sekuat tenaga menjaga hati (tidak merusak diri atau siapapun demi keluar dari persoalan).

9.    Kelihatannya tidak adil, memang. Tapi Tuhan tahu, setiap kita bertumbuh dan didewasakan oleh keadaan. Jadi memilih tidur nyenyak setelah lapar, menangis dan menjaga prinsip jauh lebih baik daripada tidur dengan suara hati yang terus berkecamuk setelah sejumlah pelarian yang sia-sia.

10. Mungkin begitu

 

Lublin – Polandia, 16 Februari 2025

Rm. Valerian Karitas, Pr

Imam Diosesan Keuskupan Ruteng

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MENGAPA RASA SYUKUR BISA TIDAK ADA DI HATI?

BERBAHAGIALAH

SUDAH (BARU) 5 TAHUN