Curhat Jalan Salib I: Yesus dihukum mati

Kami menyembah dikau ya Tuhan dan bersyukur kepadaMu

Sebab dengan salib suciMu Engkau telah menebus dunia

 

Ziarah penuh semangat Sang Kasih dimulai. Tiga tahun penuh gembira, bersama gunung, bukit, domba, kambing, sesawi, gandum, palma, mutiara, Dirham, Nazareth, Kapernaum, Galilea, Samaria…, lalu Yerusalem.

Di tempat megah bersama lantuan doa dan kurban yang telah terpatri lama bersama Leluhur Israel yang perkasa, Sang Kasih bingung.

Ia dikejutkan oleh begitu banyak hati yang tiba-tiba aneh. Satu hati memandang malu-malu bercampur ekonomis, menakar berat sang Hati kalau kebetulan dilelang di pasar Bait Allah, ah 30 keping perak mungkin. Beberapa, dengan jubah kebesaran yang megah, sibuk berdebat tentang isi hati Sang Kasih yang katanya tak sesuai dengan hati Allah, sebetulnya tak sesuai dengan hati mereka. Itu biasa, setidaknya di zaman kita.

Yang paling membingungkannya adalah keberadaan hati yang lenyap entah kemana. Ya, duabelas hati terbaik yang dipilihnya dengan penuh kasih, berziarah bersamaNya melewati ribuan hati yang terus tersentuh dari hari ke hari. Mereka juga pergi.

Ziarah duka sang Kasih lalu berakhir di lantai pualam, berhadapan dengan hati yang dingin, sedingin salju malam yang lupa pada matahari. Diam, penuh pesona pedang dan tombak, dingin, dan mudah melepas tambatan. Balutan hati ternyata tidak sesuai isinya, karena mudah ditembus sorakan atas nama, katanya, keadilan bersama, meskipun kata hati mungkin lain. Ia membasuh tangannya, memagari hatinya.

Sang Kasih lalu dijatuhi hukuman mati.

KasihNya seakan tak lagi berguna, tidak ada lagi hati yang berdendang gembira “Hosana Putera Daud”. Yang tersisa telah memeluk tambatan lain, mungkin malam. Sorakan lalu berganti dengan enteng, nyaris tanpa beban, “salibkan dia”.

Hati, yah, sangat khas hati. Mudah berubah, tak tahan derita, ibarat air, mengalir nyaris tanpa hambatan menuju lautan yang bernama “nyaman”.

Jika ingin mencari kesetiaan, manusia biasanya sudah paham, harga yang harus dibayar bagi hati adalah kenyamanan dan keamanan. Bila nyaman, gembira, nikmat, bagus, cantik, tampan, indah, hati biasanya mudah diundang, malah datang tanpa diundang. Tetapi bila yang dipegang ternyata buruk, sedih, kalah, menderita, tak berdaya, hati adalah yang pertama dalam urusan melarikan diri atau menghilang. Ia bahkan lebih cepat menghilang dari harapan.

Tentang hati ini, ada yang pernah berkata: jika ingin mencari sahabat, carilah dalam penderitaan dan kekalahan.

Sang Kasih tenang, menerima hukuman itu dengan penuh pasrah. Ia tahu, jalan cintaNya untuk menemukan hati akan sangat berat dan berbahaya, dan dia memilih jalan itu. Jalur pertama menuju hati sudah terbuka.

(doa)


Rm. Valerian Karitas, Pr

Komentar