Curhat Jalan Salib II: Perhentian IV - Yesus Berjumpa dengan IbuNya

Kami menyembah Dikau ya Tuhan, dan bersyukur kepadaMu

Sebab dengan salib suciMu Engkau telah menebus dunia

 

Ibu, maaf…

Anakmu tercabik pada bilur tubuh, pada darah yang liar mengalir

ingin aku berucap banyak, ibu.

membuat litani gembira tentang kanakku yang manja dan remajaku yang penuh ceria padamu

ingin aku berkisah, ibu, meski sedikit,

sekadar menjaga agar pedang di hatimu tak bergerak lagi, dan hatimu tak lagi sakit.

Ingin sekali aku mengadu, ibu, curhat sedikit tentang hati mereka yang lari entah ke mana, berbalik, dan tak lagi dekat padaku

 

Ibu, maaf…

Yang tersisa pada tubuhku hanyalah mata…

Aku ingin engkau memandang dalam-dalam pada mataku, ibu,

hatiku bersama seluruh isinya ada, terlindungi dari darah, cambuk dan olokan yang kian mendera.

Jangan kau pandangi kepalaku, ada duri yang siap melukai hatimu yang terlanjur sakit

Jangan kau pandangi tubuh yang kau rawat seumur hidupmu yang penuh kesusahan, ada cambuk yang siap merantai jiwamu

Jangan juga kau pandangi mulutku, ada darah yang mengalir bersama hinaan dan olokan.

Pandanglah mataku ibu,

Engkau tahu, hatiku tak pernah berpaling sejengkal pun, padamu, pada mereka. Aku mencintaiMu dan mencintai mereka sepenuh hatiku.

Perjalananku mencari cinta rupanya berat ibu, seberat jalanmu menjaga cinta Sang Khalik bagi dunia seumur hidupmu.

Ibu, aku lalu tahu pada apa hati kita berdua diasah. Engkau diasah pedang, dan anakmu diasah derita salib. Cinta yang murni, ibu, ternyata diasah dalam derita, bukan dalam manisnya kata-kata dan harta, apalagi dalam diam.

Aku ingin mereka tahu, ibu. Aku mencintai dan mengasihi mereka tanpa batas. Aku ingin memeluk hati mereka yang hampa, mengisi jiwa mereka yang kosong, dan memberishkan hidup mereka yang penuh luka dan kotor.

Tapi, apa daya, ibu. Cintaku ditolak mentah-mentah.

Yah, pada akhirnya ternyata hatimu yang terlanjur terluka dan tak seharusnya melihat buah hatimu sendiri menderita, menjadi yang pertama menjenguk hati yang tanpa tambatan ini.

Senang sekali rasanya hati ini, ibu. Melihatmu, meski sedang sedih. Anakmu jadi punya sejengkal harapan, jalan ini tidak akan berakhir sia-sia.

Engkau tahu, ibu, apa yang kupikirkan? Yah, aku punya ibu yang hebat. Engkau selalu menjadi yang pertama percaya dan ikut jalan ini, meski engkau sendiri, seperti sekarang, mungkin tidak selalu mengerti.

Di sudut hatiku yang kau pandang ibu, ada selipan keinginan kecil. Aku ingin engkau membagi cinta derita ini bagi mereka. Aku tahu, ibu, engkau pasti melakukannya untukku.

Untuk pertama kali di jalan ini ibu, aku mendapatkan satu hati termanis,

dan langkah ini kulanjutkan, ibu. Mudah-mudahan ada hati lain di depan sana.

Terimakasih, ibu. 

(doa)

Rm. Valerian Karitas, Pr.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MENGAPA RASA SYUKUR BISA TIDAK ADA DI HATI?

BERBAHAGIALAH

SUDAH (BARU) 5 TAHUN