IMAN PETRUS
Ketika Yesus bertanya, “menurutmu,
siapakah AKU ini?”, Petrus dengan lantang menjawab, “Engkau adalah Mesias”. Jawaban
ini adalah jawaban yang sangat kuat, jauh lebih kuat dari hanya mengira-ngira,
bergantung pada apa kata orang, apa yang dialami orang lain. Bagi Petrus,
jawaban ini merangkum seluruh kisah hidupnya bersama Tuhan Yesus; ketika ia
dipanggil, berjalan bersama dan mendengarkanNya, dan harapannya akan masa
depan, yakni terus bersama Tuhan Yesus.
Tetapi pada saat yang sama,
ketika Yesus berbicara tentang kurban dan salib yang akan IA hadapi, Petrus,
yang melanjutkan kegagahan jawabannya yang pertama, mencoba menegur Tuhan
Yesus. Petrus yang sama, dengan ungkapan iman yang kuat, tiba-tiba menjadi “lemah”,
mendapat teguran keras, “enyahlah iblis”. Ada apa?
1. Ketika
TUHAN menanyakan pertanyaan yang sama, “menurutmu, siapakah AKU ini?”,
kemungkinan jawaban kita juga akan selantang Petrus. Kita tak pernah ragu
sedikitpun, bahwa Tuhan Yesus adalah Mesias kita, Allah yang menjadi manusia,
yang menyelamatkan kita. Itulah alasan mengapa kita berdoa. Jika ditantang
untuk mengatakan “Yesus adalah TUHANku”, kita tidak akan berkeberatan
meneriakkannya dengan lantang, sebab memang hati kita selalu begitu, dan akan
selalu begitu.
2. Hanya
saja, kita menyimpan “kelemahan Petrus”. Kita tidak selalu siap untuk
mengalami tantangan yang datang bersamaan dengan kuatnya iman kita. Doa-doa
kadang diarahkan seampuh-ampuhnya untuk bisa lari dari persoalan, seaman dan
senyaman mungkin, tanpa perlu ada kesibukan mengurus masalah ini dan itu, pokoknya
tenang dan tenteram. Iman kita yang lantang, lantas membuat kita lantang “menegur
Tuhan” jika segala sesuatu tidak seaman yang kita mau. Kita mudah cari aman, selalu
mudah mengeluh, bahkan ketika kita tahu, kita bisa melewati tantangan yang
datang. Setelah beriman dengan lantang, ada semacam sebuah keharusan dalam doa
untuk bisa mengeluh; “menegur TUHAN”.
Ketika Yesus menghardik
Petrus, kita tahu, ternyata bukan itu yang TUHAN mau.
1. Ketika
menikmati healing, hidup aman, berlimpah rezeki untuk apapun yang kita
inginkan, menjadi patokan kebahagiaan kita, TUHAN menunjukkan, bahwa itu
bukanlah ukuran kebahagiaan iman sejati. Tidak ada bahagia yang menandingi
hembusan nafas panjang, melihat hasil setelah perjuangan penuh air mata
(menyangkal diri, memikul salib, mengikuti AKU; TUHAN bilang).
2. Ternyata
ketika kita selesai berjuang memikul salib, harus tahan banting, tahan diri, menempatkan
apa yang lebih penting di depan ego kita sendiri, harus pernah menangis tapi
pada saat yang sama bangkit untuk menata kembali sebisa kita dan hidup berlanjut
lagi, hati kita jauh lebih damai daripada lari dari soal. Tidur setelah
bekerja keras menyelesaikan soal, meskipun belum sepenuhnya selesai, konon
lebih nyenyak, daripada tidur setelah seharian melarikan diri dari soal,
mencoba untuk tidak menghiraukannya sepanjang hari, bahkan dengan pelarian paling
nikmat sekalipun.
Bawa terus jawaban “ENGKAU
adalah Mesias”, dalam susah dan senang, dalam sedih dan gembira, sepanjang
waktu, dalam doamu. Bersama TUHAN, Sang Mesias, engkau tak harus selalu lari
dari setiap tantangan hidup. TUHAN bersamamu. Amin
Lublin – Polandia, 15
September 2024
Rm. Valerian Karitas,
Pr

Komentar
Posting Komentar