PERKARA: SIAPA PALING BERKUASA
(Mrk (9:30 – 37)
Setelah Tuhan Yesus menyampaikan perihal sengsara dan wafatNya
kepada para pengikutNya (ay. 31), para murid diam-diam bertengkar memperebutkan
“posisi penting” dalam kelompok pengikut Yesus; “… Tetapi mereka diam, sebab di
tengah jalan tadi mereka mempertengkarkan siapa yang terbesar di antara mereka”
(ay. 34).
a.
Tuhan Yesus,
yang paling utama di antara mereka, bahkan baru selesai membicarakan “posisiNya”
sebagai “yang diserahkan ke dalam tangan manusia, dibunuh, dan bangkit pada hari
ketiga”. Kuasa yang diemban Yesus adalah kurban, kuasa “penyerahan Diri”.
b.
Para
murid memperebutkan kuasa seperti itu dengan dengan klaim “paling utama,
pertama, terbesar”. Kuasa itu bagi mereka berarti ada di atas yang lain, “memerintah”,
dan bisa menjadi penguasa bagi yang lain, dan memiliki lebih banyak: entah kekayaan
entah gengsi.
c.
Yesus
mengkritik pandangan mereka dengan “menempatkan seorang anak kecil” (ay. 36). IA
menekankan tiga hal utama dalam prinsip kepemimpinan, kurban, kerendahan hati,
dan mengayomi (menerima dan melindungi, terutama yang paling lemah dan rentan).
Belajar dari kritikan Yesus, apa yang bisa kita renungkan
bersama?
a.
Ketika diserahi
tanggung jawab atas kehidupan orang lain, perlindungan atas hidup adalah tugas
utama yang tidak dapat ditawar-tawar. Kita mesti memastikan orang yang TUHAN
serahkan kepada kita tetap hidup dan menjalani hidup tanpa “dimatikan”. Kita
mengatakan kepada hati: “saya memimpin agar engkau dan kamu semua bisa hidup”.
Maka kita tidak bisa memimpin dengan “kuasa idaman para murid”, sebab merasa
lebih berhak atas nilai kehidupan orang lain rentan dengan kepemimpinan yang “mematikan”:
rajin mencekik, rajin memanipulasi, dan tidak segan atau takut mengorbankan hak
orang lain atas kehidupan yang layak.
b.
Kepemimpinan
gaya Yesus mesti dimulai dari kesediaan “menerima anak kecil”. Orang yang
berada di depan yang lain harus bisa merasakan “ancaman terhadap kehidupan”,
mulai dari kelompok paling rentan, yakni mereka yang tidak punya apa-apa untuk
mempertahankan kehidupan mereka sendiri terhadap keserakahan sesamanya. Untuk
biasa “ada bersama anak kecil”, kita tidak bisa menjadi “orang dewasa yang angkuh”.
c.
Kualitas
“menerima dan melindungi” tidak bisa didapat dengan mengambil jarak dengan
orang-orang yang TUHAN percayakan kepada kita, atau “berpura-pura dekat” agar
menarik simpati sesaat. Tanpa keberanian membicarakan tentang kesakitan,
kita belum bisa berkurban dengan baik. Tanpa bisa berkurban, kita tidak akan bisa
menerima dan melindungi orang lain. Tanpa bisa melindungi, kita tidak bisa
menjadi pemimpin.
Lublin – Polandia, 22 September 2024
Rm. Valerian Karitas, Pr

Komentar
Posting Komentar