ORANG BERIMAN



1.       Yesus melarang para muridNya mencegah orang yang “mengusir setan dengan namaNya”. Orang itu bukanlah pengikut Yesus, tetapi dia percaya pada kuasa Yesus dan dia berkehendak baik. Kata Yesus: "Jangan kamu cegah dia! Sebab tidak seorangpun yang telah mengadakan mujizat demi nama-Ku, dapat seketika itu juga mengumpat Aku. (ay. 39). Perhatikanlah dua kualitas rohani ini dalam hidup iman kita. Kita tidak dapat “percaya pada kuasa TUHAN” dan pada saat yang sama memelihara hati dan kehendak yang buruk dalam diri. Kita juga tidak dapat mengatakan “yang penting hati dan hidup baik, beriman tidak penting”.

2.     Lebih jauh, Yesus bahkan dengan jelas menegaskan tentang berkat berlimpah yang memenuhi hidup orang-orang yang membawa TUHAN. Berkat TUHAN tidak hanya mengalir dalam hidupnya, tetapi juga mengalir memenuhi orang-orang lain yang menerimanya dan berjalan bersamanya.Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa memberi kamu minum secangkir air oleh karena kamu adalah pengikut Kristus, ia tidak akan kehilangan upahnya."(ay. 41). Ketika kita beriman teguh, dan dengan setia mengarahkan iman itu dalam hati dan kehendak yang baik, bukan hanya hidup kita yang berlimpah berkat. Orang-orang lain yang menerima kita juga menerima berkat itu melalui iman kita pada TUHAN.

3.     Lantas, bagaimana menjadi beriman dengan dua kualitas rohani: percaya pada kuasa TUHAN dan berkehendak baik? Tuhan Yesus menegaskan dua prinsip yang mesti dijaga dengan setia:

a.     Bagi Yesus, kehendak baik selalu berarti “tidak menyesatkan orang, terutama yang paling rentan (lugu, tidak tahu apa-apa). "Barangsiapa menyesatkan salah satu dari anak-anak kecil yang percaya ini, lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya lalu ia dibuang ke dalam laut.” (ay. 42). Jangan pernah menggunakan iman atau hidup rohani sebagai sarana untuk menipu atau mengelabui orang lain, terutama untuk memenuhi hasrat diri sendiri atas kesenangan atau harta. Menunggangi hal-hal berbau iman demi menipu orang lain atau bahkan merampas hak hidup orang lain adalah sesuatu yang amat tecela. Kehendak baik berarti “ketika kita berkata-kata dan berbuat, orang yang menerimanya memperoleh kehidupan, kesembuhan, damai, jalan, dan pembebasan”.

b.     Jaga hati dan diri dengan setia mengatakan “tidak” pada godaan untuk melakukan hal yang buruk. “Dan jika tanganmu menyesatkan engkau, penggallah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam hidup dengan tangan kudung dari pada dengan utuh kedua tanganmu dibuang ke dalam neraka, ke dalam api yang tak terpadamkan; Dan jika kakimu menyesatkan engkau, penggallah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam hidup dengan timpang, dari pada dengan utuh kedua kakimu dicampakkan ke dalam neraka; Dan jika matamu menyesatkan engkau, cungkillah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam Kerajaan Allah dengan bermata satu dari pada dengan bermata dua dicampakkan ke dalam neraka” (ay 43, 45, 47). Orang yang beriman berani untuk tegas pada dirinya sendiri, terutama ketika ada godaan untuk mulai berkata-kata buruk, berharap melihat hal buruk dalam diri sesama, dan berbuat jahat. Semakin setia kita berkata “tidak” dan menolaknya, semakin terjaga hati dan diri kita.

4.     Iman selalu berjalan dalam dua hal, percaya pada TUHAN dan memelihara hati dan hidup yang berkehendak baik. Dengan dua hal itu, kita diberkati dan menjadi berkat.

 

Lublin – Polandia, 29 September 2024

Rm. Valerian Karitas, Pr

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MENGAPA RASA SYUKUR BISA TIDAK ADA DI HATI?

BERBAHAGIALAH

SUDAH (BARU) 5 TAHUN