APA ARTINYA “BERKUASA”?
(Mrk.
10:35-45)
1.
Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus, meminta “tempat spesial"
dalam Kerajaan Yesus. Mereka meminta agar mereka diperkenankan “duduk di sebelah
kiri dan kanan” Sang Raja Kristus dalam kekuasaan-Nya kelak (ay. 37). Permintaan
bernada “kontrak politik” ini ternyata sudah tua, bukan ada baru-baru ini saja.
Orang-orang berjuang agar “mendapatkan posisi atau mempertahankan posisi”
dengan berkolusi dengan siapapun yang akan memimpin.
2. Tuhan
Yesus mengajukan syarat meminum cawan yang harus Kuminum dan menerima baptisan
yang harus Kuterima” (ay. 38). Yesus mencoba menyadarkan mereka berdua,
bahwa yang mereka sangka sebagai “kekuasaan dengan takhta empuk” itu adalah
sebuah salib dengan perjalanan yang terjal dan penuh tantangan.
3. Karena kenekatan
mereka, Yesus kemudian menjawab, bahwa “upah Kerajaan Allah” ada dalam kuasa
TUHAN untuk diberikan, bukan sesuatu yang bisa diutak-atik seturut kepentingan
seperti yang biasa dibuat manusia atas kekuasaannya terhadap sesama dan alam
ciptaan. Kepada para murid, Tuhan Yesus mengajarkan, bahwa
keutamaan “kekuasaan” itu datang dari pelayanan dan kurban. Tugas itu bukanlah
posisi empuk untuk meraup sebanyak mungkin kekayaan dan kenyamanan diri, tetapi
pelayanan dan kurban, memberikan diri sendiri demi kebahagiaan dan kesejahteraan
orang lain.
4. Apa artinya
berkuasa menurut Yesus?
a. Kita,
yang adalah murid Kristus sekaligus yang diberi kepercayaan “berada di depan
yang lain”, meminum dari cawan Kristus dan menerima baptisan seperti Kristus. Maka,
jika Kristus menerima salib untuk menghidupkan kita, kita yang memimpin harus
selalu memilih untuk menghidupkan orang lain yang TUHAN percayakan kepada kita,
entah dalam keluarga, di tempat kerja, dan sebagainya. Kalau sebagai
pemimpin, kita malah “menghisap habis energi kehidupan orang yang kita pimpin”,
kepemimpinan kita tidak berasal dari cawan Kristus. Kalau sebagai pemimpin,
kita malah “membunuh” dengan keserakahan, kata-kata yang kasar dan mematikan,
kebijakan yang malah memotong harapan hidup orang, kepemimpinan kita tidak
berasal dari baptisan seperti yang Kristus terima.
b. Kesediaan
untuk memilih dan berprinsip “menjaga dan merawat kehidupan” hanya dapat
ditemukan dalam pelayanan. Tugas “kekuasaan” adalah melayani, bukan duduk dan
menikmati kenyamanan. Kalau kita tidak bersedia sibuk, tidak bersedia
berkurban, tidak bersedia merendahkan diri demi menghidupkan orang yang TUHAN percayakan
kepada kita, kita tidak akan bisa memimpin atau “berkuasa”.
Lublin –
Polandia, 20 Oktober 2024
Rm.
Valerian Karitas, Pr
Gud tuang
BalasHapusamin
Hapus