AKHIR ZAMAN
(Mrk. 13:24-32)
Sekurang-kurangnya,
ada beberapa hal yang disampaikan Yesus:
1.
Penanda hari dan waktu, yakni
bulan dan matahari, akan menjadi gelap. Segala sesuatu yang menandai hari-hari
hidup kita suatu saat akan terbongkar (ay. 24-25)
2.
Pada akhir zaman, TUHAN akan
mengumpulkan orang-orang pilihanNya, memisahkan mereka untuk mendapatkan
kebahagiaan kekal. (ay. 26-27)
3.
Sikap iman yang baik adalah “berjaga-jaga”,
berjuang menyadari kehadiran TUHAN dan sedapat mungkin berjalan bersamaNya. Orang-orang
yang dekat dengan TUHAN pasti tahu tanda-tanda kehadiranNya. (ay. 28-29)
4.
TUHAN akan melaksanakan
kehendakNya, tetapi kapan kehendakNya akan terjadi, tidak ada yang tahu. (ay. 30-32).
Tidak ada gunanya juga mencari ‘bocoran’, sebab yang penting bukan kapan
saat itu datang, tetapi persiapan dan pentingnya memaknai “berkat dan kesempatan
hari ini”.
Apa
yang bisa kita renungkan?
1.
Kita selalu tergoda untuk terlena,
seolah-olah hidup kita tidak berakhir. Kita menarik-ulur, menunda-nunda, menolak
setiap peringatan dan nasihat, seenaknya, karena menyangka “semuanya masih
panjang dan masih ada waktu”. Kita cenderung mengulur kesenangan selama
mungkin, menunda tanggung jawab (kadang tunggu injury time baru sibuk).
Kita lupa, bahwa segala sesuatu ada ujungnya, entah itu waktu yang pendek
(kepercayaan, pekerjaan, kesempatan) maupun waktu yang panjang (hidup).
2.
Ternyata “raport” kita tidak ada ujian
akhirnya. Penilaiannya lebih panjang, terkumpul sedikit demi sedikit dari
hari-hari yang kita lewatkan. “Orang pilihanNya” ternyata adalah hasil dari
proses hidup yang panjang, melibatkan kesadaran diri, dekat dengan TUHAN, dan
tanggung jawab yang kadang-kadang melelahkan dan penuh tantangan terhadap
hidup. Yang repot, kita tiba-tiba “terima raport”, bukan tiba-tiba “ujian”.
3.
Ada bagusnya juga ketika Tuhan Yesus
mengatakan “tidak ada yang tahu”. Kita tidak perlu repot-repot bertanya dan
mencari tahu kapan waktu TUHAN itu akan datang. Ada dua hal yang pasti, (1)
waktu itu pasti datang, dan (2) saat datang, waktu itu adalah waktu TUHAN (yang
selalu menjadi waktu terbaik).
4.
Bagian paling penting untuk kita
adalah pentingnya memaknai dan mengisi hari ini dengan baik.
Isilah kesempatan hari ini baik-baik, dalam perjumpaan dengan orang lain, dalam
tugas dan tanggung jawab, dan dalam iman akan TUHAN. Mulailah dengan yang
paling sederhana:
a.
Kalau bisa dibuat hari ini, mengapa
harus besok?
b.
Kalau suara hati bilang “ini yang baik”,
atau “jangan buat”, toh tidak ada salahnya diikuti, kan?
c.
Kalau nasihat dan peringatan itu baik,
mengapa harus jengkel?
5.
Kita “langsung terima raport”.
Lublin – Polandia, 17 November 2024
Rm. Valerian Karitas, Pr
Imam Diosesan Keuskupan Ruteng

Komentar
Posting Komentar