PAMER


 

1.     Perilaku memberi secara ironis dipertentangkan dalam injil:

a.     Ahli-ahli Taurat (bersama orang-orang kaya yang memberi banyak) dan janda miskin,

b.     mereka yang ‘menelan rumah janda-janda’ dan janda yang ‘memberi apa yang seharusnya untuk dia telan (makan)’,

c.      mereka yang ‘pamer’ dan janda yang memberi dengan ‘sembunyi-sembunyi’ (pemberiannya tidak seberapa untuk harus dipamerkan).

2.     Membanggakan ‘kulit’ memang selalu menjadi kebiasaan kita. Kita mudah terpesona oleh ide-ide ‘pamer’, memberi dengan berjuta-juta atribut agar bisa dilihat dan disanjung-sanjung. Kebiasaan ini, sayangnya, berjalan lurus dengan mental ‘flexing’, semacam kebiasaan memamerkan kekayaan atau status dan kebiasaan menonton konten-konten pamer kekayaan seperti ini lalu secara celaka menganggapnya sebagai ‘tanda bahwa mereka atau aku diberkati’.

3.     Yesus memperingatkan dua bahaya budaya ‘pamer’:

a.     Pamer seringkali menutup mata kita terhadap kesalahan atau kejahatan. Hal-hal yang berbau spektakuler atau ‘wah’ kadang-kadang digunakan untuk mengalihkan perhatian, sementara oknum (atau bisa kita, dan aku) secara masif ‘menelan rumah janda-janda’. Kalau kita tidak lagi sanggup membedakan mana yang benar dan mana yang salah ketika ada persoalan, lalu meninggalkan tuntutan kenabian kita, kita telah terinfeksi virus ‘pamer’ ini.

b.     Pamer merusak hati. Pelajaran paling berharga yang dapat membentuk hati sebenarnya datang dari hal-hal yang tak terlihat (yang tidak perlu atau tidak pernah ditunjukkan). Hati dibentuk ketika engkau bisa memberi tanpa dilihat, dan ketika engkau bisa memiliki tanpa pamer. Dengan kebiasaan pamer, ukuran kita menjadi bergantung “like dan comment” dari manusia, bukan lagi TUHAN.

4.     Berilah tanpa pamer, milikilah tanpa pamer.

 

Lublin – Polandia, 10 November 2024

Rm. Valerian Karitas, Pr

Imam Diosesan Keuskupan Ruteng 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MENGAPA RASA SYUKUR BISA TIDAK ADA DI HATI?

BERBAHAGIALAH

SUDAH (BARU) 5 TAHUN