TRANSFIGURASI

1.    Kepada Abraham, TUHAN membuat janji dengan mukjizat: Abraham diminta melihat bintang di langit, dan kurban bakaran yang ia siapkan terbakar secara ajaib oleh kuasa TUHAN. Janji itu datang dengan mukjizat agar selalu diingat Abraham, bahwa yang berjanji kepadanya adalah TUHAN.

2.    Dalam injil, Tuhan Yesus berubah rupa di depan Petrus, Yohanes dan Yakobus. PakaianNya menjadi putih bercahaya, Musa dan Elia juga menampakkan diri. Ada suara dari langit “Inilah AnakKu yang kupilih. Dengarkanlah DIA”. Dalam peristiwa transfigurasi, dengan mukjizat yang luar biasa, Yesus menunjukkan kepada mereka bahwa IA adalah TUHAN.

3.    Transfigurasi menjadi pengingat bagi ketiga murid Yesus, bahwa meskipun mereka akan melihat orang-orang Yahudi menolak Yesus, meskipun mereka melihat Yesus menderita, disalibkan, dan wafat, mereka tetap ingat, Yesus adalah TUHAN. Mereka akan mengalami masa ‘kelam’ dalam perjalanan iman mereka bersamaNya. Peristiwa ini menjadi pengingat, dan kemudian akan mencapai pemenuhannya dalam kebangkitan Kristus.

4.    Kepada Abraham, lalu kepada ketiga murid, lalu sekarang kepada kita: TUHAN ingin kita selalu ingat, bahwa yang kita imani adalah sungguh-sungguh TUHAN. Hidup kita pasti akan penuh dengan kesulitan. Hidup kita pasti selalu penuh dengan luka. Hidup kita pasti selalu penuh dengan tantangan yang tak kunjung selesai. Hidup kita pasti selalu ada salibnya. Semua tantangan menjadi bagian yang tak pernah pergi dari perjalanan iman kita.

5.    Tetapi, ketika salib itu datang dalam hidup, lalu kita menjawabnya dengan berjuang sambil terus-menerus berdoa, tanyakanlah dengan sungguh-sungguh kepada hati kita,

a.     Siapa yang selalu ada dalam Ekaristi dan kita terima.

b.    Siapa yang selalu mendengarkan setiap doa kita.

c.     Siapa yang kita imani dalam hidup.

6.    Kadang-kadang, beratnya salib bisa membuat kita “ragu” pada kuasa TUHAN dan pada iman kita sendiri. Ketika ada soal yang tak kunjung selesai dan menguras begitu banyak kebahagiaan dan ketenangan, doa kita sering kali hanya menjadi “pelarian”, tanpa pernah benar-benar ada dalam iman “yang mendengarkan doa saya adalah TUHAN”.

7.    Tetapi Yesus tidak pernah berhenti mengingatkan kita, bahwa kita beriman kepada TUHAN. IA berkuasa, IA dekat, dan IA menyelamatkan. Ketika kita berdoa, kita tidak hanya sedang bertahan, tetapi kita percaya bahwa TUHAN mendengarkan kita, dan IA pasti menolong kita.

8.    Itulah sebabnya, dengan penuh iman, pemazmur menyanyikan “Aku percaya kepada-Mu, Tuhanlah pengharapanku”. Itulah sebabnya, dalam ketakjuban dan ketakutan, Petrus berkata, "Guru, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Baiklah kami dirikan sekarang tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia." Itulah sebabnya Rasul Paulus mengatakan kepada jemaat di Filipi dan juga kepada kita, “Karena itu, saudara-saudaraku yang kukasihi dan yang kurindukan, sukacitaku dan mahkotaku, berdirilah dengan teguh dalam Tuhan!”

9.    TUHAN ingin, agar seperti Abraham, seperti ketiga murid, seperti Paulus, kita selalu ingat: yang kita imani adalah TUHAN.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MENGAPA RASA SYUKUR BISA TIDAK ADA DI HATI?

BERBAHAGIALAH

SUDAH (BARU) 5 TAHUN