DIUTUS, APA ARTINYA?
(Mrk 6:7-13)
Sebagai utusan TUHAN, kita diutus ke banyak tempat. Ada yang diberkati TUHAN untuk diutus ke rumah, ke
tengah keluarga yang TUHAN percayakan kepadanya. Ada yang diberkati TUHAN untuk
diutus ke umat, ke tengah kawanan persaudaraan iman yang TUHAN percayakan
kepadanya. Ada yang diberkati TUHAN untuk jadi sahabat, jadi rekan kerja, jadi
pembimbing, dan sebagainya. Lalu, apa artinya menjadi utusan TUHAN?
a.
Menjadi
utusan yang dipesankan untuk “jangan membawa apa-apa”. (Mrk 6:8-9)
Untuk berkeluarga atau bekerja, atau untuk menjadi
terpanggil, kita sering mengagungkan “yang kita bawa”: punya apa dan berapa, belajar
dan tahu apa dan berapa banyak, bisa apa. Orang-orang berlomba-lomba mengukur persiapan
mereka dengan pertanyaan “punya apa?”. Ketika jatuh cinta, yang pertama
ditanyakan adalah “punya apa”. Ketika merasa terpanggil dan siap diutus, yang
pertama yang selalu diragukan dari diri adalah “punya apa”.
Di satu sisi, persiapan memang penting, tetapi itu
bukanlah segalanya. Panggilan hidup bukanlah “kerja mesin” yang tinggal “menghabiskan
bahan bakar” yang telah kita persiapkan. Di dalamnya ada begitu banyak
keadaan, berkat dan tantangan, kesulitan dan kemudahan, kesempatan, dan yang
paling penting, berkat TUHAN. Kalau kita mengimani, bahwa cinta kita datang
dari TUHAN, kita juga seharusnya selalu ingat, bahwa TUHAN tidak akan pernah
meninggalkan kita.
Kita perlu mempersiapkan diri, itu penting. Hanya saja, jangan
menjadi begitu terobsesi pada persiapan, sampai lupa bahwa panggilan hidup adalah
kisah perjuangan dan tanggung jawab, bukan sekadar menghabiskan apa yang telah
dipersiapkan.
b.
Menjadi
utusan yang mau datang dan tinggal, lalu bersaksi. (Mrk 6:10-11)
Kualitas pertama dan utama dari utusan TUHAN adalah
kesediaan untuk “datang dan tinggal”. Kita
tidak bisa mencintai apapun dari jauh, atau dengan membuat jarak antara diri
kita dengan apa yang kita cintai.
Karena itu, kalau anda dipanggil untuk berumah tangga,
datang dan tinggallah di rumahmu. Kalau Anda dipanggil untuk menjadi pelayan TUHAN,
datang dan tinggallah di tengah umatmu. Ketika kita mengagungkan jarak, merasa berbeda dan mesti
menjaga jarak, mereka yang TUHAN percayakan kepada kita akan kesulitan mempercayai
kata-kata cinta apapun dari mulut kita. Kesediaan untuk datang, tinggal, dan
ada bersama adalah bukti cinta pertama, sesuatu yang melayakkan kita untuk
menjadi utusan TUHAN.
c.
Menjadi utusan
yang menyembuhkan. (Mrk 6:12-13)
Hanya dengan datang, ada, dan tinggal bersama saja, kita
sebetulnya sudah bisa jadi obat. Ada
begitu banyak kesaksian hidup dari orang yang menjadi sembuh, bahwa mereka akhirnya
menemukan kekuatan untuk bangkit dan menjadi lebih baik berkat kehadiran orang
yang mereka sayangi, yang peduli pada mereka, pastor-pastor mereka,
suster-suster mereka. Ketika ditanya, obatnya ternyata sederhana: sekadar chat
whatsapp, berkunjung, ada di samping dan bersama.
Kesembuhan yang sempurna itu kemudian datang dari TUHAN,
yang melengkapi ikatan kasih utusan-Nya dengan orang-orang yang IA percayakan
kepada mereka.
Itulah sebabnya, keluarga juga disebut rumah, tempat
bernaung dan berteduh. Itulah sebabnya, komunitas beriman juga disebut Gereja, rumah
perteduhan yang disiapkan TUHAN untuk kita yang suka patah hati. Kehadiran utusan
TUHAN yang siap untuk ada bersama dan tinggal, memastikan ikatan kasih itu
menyembuhkan.
Lublin – Polandia, 14 Juli 2024
Rm. Valerian Karitas, Pr

Terima kasih sudah berbagi
BalasHapussama-sama kk
Hapus