KOLĘDA
Pastor yang
berjalan kaki dari rumah ke rumah, bapak-bapak berambut putih dengan langkah
tertatih tapi tak kurang gembira menebar senyum dan menjemput penuh kehangatan,
dan gema sapaan “szczęść boże” (TUHAN
memberkati, biasanya menjadi sapaan khusus untuk para pastor atau rohaniwan
Katolik) di halaman yang berlumpur dan basah (konon sering bersalju tebal),
keluarga yang berkumpul di ruang tengah dengan meja bertaplak putih dengan
salib dan dua lilin di atasnya, nenek-nenek penuh semangat yang dengan sigap menggeser
piring-piring datar penuh kue-kue coklat, pasti buatan tangan tua mereka
sendiri, sambil menawarkan “może herbata czy kawa?” (mungkin teh atau kopi?), lagu-lagu
Natal yang dinyanyikan bersama-sama, dan doa berkat atas keluarga dan rumah
yang mengalir indah dan merecik bersama tetes air berkat yang pergi
membahagiakan hati, ikatan kasih keluarga, dinding-dinding rumah yang dingin,
dan harapan, dan cerita-cerita yang mengalir deras, tentang hidup, tentang
rindu, tentang harap, dan tentang doa. Natal kali ini sungguh aneh, datang
dengan kejutan, dengan rasa yang sukar dilukiskan. Jika hidupmu engkau berikan
untuk membawa Tuhan, engkau tahu rasanya.
Setiap rumah mempersiapkan kedatangan pastor untuk memberkati rumah mereka
Natal tahun 2024
ini menjadi natal kedua di Polandia, dan menjadi natal pertama di paroki di
Polandia, tepatnya di Paroki St. Petrus dan Paulus Pieniezno. Di tengah-tengah
penasaran yang tak selesai-selesai tentang bagaimana gerangan orang-orang luar
biasa di tanah ini merayakan Natal berabad-abad dalam kondisi dingin yang suram
dan beku, saya menemukan sumber kehangatan mereka. Di sini, ada Natal yang jauh
dari pesta dan hingar-bingar kemeriahan. Di sini, ada suasana Natal yang sangat
khas di rumah, betul-betul di rumah. Ada perjamuan opłatek, semacam perjamuan
sebelum misa vigili malam Natal, yang ada tradisi uniknya. Setiap anggota
keluarga saling berbagi roti pipih (seperti hostia untuk misa, tapi berbentuk
segi empat dengan motif gambar keluarga kudus Nazareth di tengahnya) sambil mengucapkan
selamat natal dan berkat satu sama lain. Ada kolęda, tradisi Christmas carol
(seperti tradisi Santa Claus) tetapi dengan paket spesial Natal dari paroki,
yakni mengunjungi dan memberkati setiap rumah dan keluarga di seluruh paroki,
benar-benar SETIAP RUMAH DAN SETIAP KELUARGA. Di Pieniezno, - dan di juga di
banyak tempat lain di Polandia - , di tengah ramainya Natal, dua momen
menggembirakan ini tak pernah boleh dilewatkan: keluarga akan berkumpul, dan
Pastor akan datang memberkati rumah dan keluarga mereka di masa Natal. Ini
menjadi momen paling sibuk bagi pastor paroki dan pastor rekan, dan biasanya
berlangsung selama hampir sebulan penuh.
Natal dan
Perjumpaan
Dengan bahasa
Polandia saya yang masih sangat buruk, saya mencoba menangkap beberapa kisah.
Dari nenek dan kakek, ada senyum bahagia yang tidak bisa disembunyikan ketika
barisan anak dan cucunya mendapat berkat. Anaknya datang semua, katanya dengan
penuh semangat, tapi hari ini mereka pergi kerja lagi, nanti tunggu tahun baru
baru datang lagi ke rumah. Seorang ibu tua, sendirian, menceritakan bahwa dia
cemas kalau Pastor tidak jadi datang untuk kolęda kali ini. Ya Tuhan,
betapa dia membutuhkan sahabat untuk mendengar cerita-ceritanya. Bapak-bapak
dengan bangga ‘memamerkan’ anak gagah mereka, sudah kerja atau masih kuliah dan
harus tinggal jauh, tapi sekarang ada di sisi mereka, merayakan natal dan
sekarang menerima kunjungan berkat Tuhan saat kolęda. Dari wajah yang
keras dengan kerja banting tulang bertahun-tahun di lahan-lahan pertanian, ada
kebanggaan yang jelas terlihat, ditunjukkan langsung pada kami dan, tentu saja,
kepada Sang Pemberi Berkat. Ada wajah-wajah lelah dan sedih dari mereka yang
sendirian dan sederhana. Semuanya dijumpai, diberkati, dan didengar.
Saya jadi
teringat, ketika merenungkan kelahiran Sang Penebus Agung, bahwa karunia
pertama dari Natal adalah perjumpaan. Tuhan bersedia menjumpai umatNya.
Perjumpaan itu menjadi perjumpaan langsung, dari muka ke muka. Allah menjadi
manusia untuk menjumpai kita. Pantas, Elizabeth dan Yohanes kecil begitu
berbahagia ketika menerima Maria yang sedang mengandung Yesus. Pantas, Simeon
dan Hana begitu berbahagia ketika melihat Yesus di Bait Allah. Bahagia mereka
semua, adalah bahagia perjumpaan.
Pikiran saya terus
menari-nari bersama Gereja. Apakah kita bisa berjumpa langsung dengan cara yang
sama? Ketika teknologi mempermudah perjumpaan dengan segala bentuk kemajuan
digital, bukankah hadir secara langsung tetap perlu? Ketika kita mengagungkan banyaknya
umat yang hadir di Gereja dalam perayaan Gereja, bukankah menjumpai mereka
secara langsung di rumah mereka tetap perlu? Apakah mengajarkan mereka tentang
Tuhan lalu membiarkan mereka larut dalam perjuangan doa mereka sendiri itu
cukup, ataukah kehadiran kita juga menjadi semacam cermin yang bisa membuat
mereka merasa Tuhan juga benar-benar hadir dalam hidup mereka?
Saya jadi teringat
gurauan saya sendiri ketika menanggapi celetuk seorang ibu saat pandemi Covid
melanda, “ee Romo tidak pernah liat kami punya rumah”. Waktu itu, saya
menjawab serampangan, “syukur, Mama, berarti tidak kabar buruk di rumah”.
Ketika mengikuti kolęda, saya baru menyadari, betapa menyedihkannya
jawaban saya saat itu. Sebagai Pastor, saya baru benar-benar resmi ke rumah
umat tanpa diundang dengan gembira ketika ada misa arwah, dan tentu saja mereka
sedang hancur oleh kehilangan, tidak ada kesempatan bercerita, tidak ada hal
yang bisa didengarkan.
Kita selalu larut
dalam kemegahan Gereja yang dalam nama Tuhan bisa “mengumpulkan orang” dan “menyatukan
orang”. Bagian yang paling sepi dan berat dari perjuangan manusia, penderitaan
dalam kesepiannya, sering kali tidak tersentuh, karena kita hanya menunggu
mereka berkumpul dan bercerita. Acapkali, perkumpulan itu menjadi “tidak asli”,
dipandang sebagai “kewajiban agama” karena aturannya sudah seperti itu, dengan
pola-pola seperti itu, dan dengan hasil yang diharapkan seperti itu.
Mereka datang,
menikmati kesempatan berada di “dunia lain”, sebelum kembali dan bergelut
dengan dunia mereka yang sepi, tanpa Gereja. Kalau pun disentuh, paling-paling
itu hanya sebatas seliweran pesan homili, atau pesan-pesan rohani di beranda
media sosial mereka. Perjumpaan pribadi, langsung menuju “kandang Natal” mereka
yang penuh kekurangan tapi dipilih Yesus untuk lahir dan menjadi manusia seperti
kita, belum tersentuh dengan baik. Padahal, wajah asli komunitas dan pribadi
benar-benar ada di rumah, menunggu untuk disapa dan didengar.
Ketika ikut kolęda,
saya ikut larut dalam keadaan setiap rumah dan keluarga, tentu saja dengan
keadaan mereka masing-masing. Di rumah, kita melihat lutut yang sama yang
selalu datang lebih dahulu di Gereja, dan kita mendapat jawaban, kenapa dia doa
lama sekali sebelum misa. Di rumah, kita melihat sepi yang rapuh, yang menjawab
pertanyaan mengapa dia selalu bersemangat mengajak cerita setelah misa dan itu
kadang mengganggu. Di rumah, kita melihat “kandang Natal” mereka, rumah kasih
mereka yang juga menjadi rumah yang mereka siapkan untuk Yesus, dan juga alasan
mereka untuk setia ke Gereja. Jenis ini tidak bisa ‘dikarang bebas’ dari jauh.
Kita harus datang dengan semangat bertemu dan mendengar dengan hati.
Ketika Gereja
bergerak menjawab tantangan pastoral, perjumpaan langsung dengan komunitas dan
pribadi tidak pernah bisa digantikan dengan teknologi dan kreativitas pastoral
sebaik apapun. Cerita tentang bela rasa, kepedulian, keberpihakan, suara
kenabian, dan kasih adalah kisah iman yang hanya bisa dirajut dengan perjumpaan
nyata. Kisah kita tidak akan pernah lengkap tanpa mendengar. Natal mereka
rasanya lengkap sekali di sini, ada misa di Gereja, ada kumpul keluarga yang
menjadi tradisi dan dirayakan dengan penuh semangat, dan Pastor Paroki mereka
melengkapi sukacita natal itu dengan datang memberkati mereka di rumah.
Pieniezno-Polandia, 2 Januari 2025
Rm. Valerian Karitas, Pr
Komentar
Posting Komentar