PESTA KITA DI KANA

(Yoh. 2:1-12)

1.    Yesus dan murid-muridNya dikisahkan diundang dalam pesta nikah di Kana (Yoh 2:2).

a.     Perayaan itu adalah kegembiraan dan sukacita keluarga. Mereka menggelar pesta, menyiapkan segala sesuatu, dan mengundang orang lain untuk bergembira dan bersukacita bersama mereka, termasuk Yesus.

b.    Ternyata mereka kekurangan anggur (Yoh 2:3), salah satu bahan pesta yang penting dalam budaya Israel zaman itu. Kekurangan anggur, akan membuat suasana pesta menjadi kurang enak, sebab bukan hanya sukacitanya yang jadi terganggu; para tamu kemungkinan juga akan membicarakan tentang tuan pesta yang “kurang siap” (bdk. pujian kepada tuan pesta dalam Yoh. 1:10, “engkau menghidangkan anggur yang baik sampai sekarang”).

c.     Ketika Yesus mengubah air menjadi anggur, ada dua hal menarik;

(1) Betapa cepat tanggapnya Maria, ibu Yesus, yang “sudah ada di situ” (Yoh. 2:1). Ia yang pertama menyadari kecemasan tuan pesta, memberitahu Yesus (Yoh 2:3), dan memberitahukan kepada pelayan untuk mempersiapkan mukjizat itu (Yoh 2:5); seperti mengabaikan jawaban Putranya itu (bdk. Yoh. 2:4: Kata Yesus kepadanya: "Mau apakah engkau dari pada-Ku, ibu? Saat-Ku belum tiba."). Kemungkinan besar, ia tahu Hati Putranya.

(2) Air yang telah menjadi anggur itu kemudian memastikan sukacita pesta itu tetap lengkap (Yoh2:10). Tetapi, tuan pesta “tidak tahu dari mana datangnya” dan “pelayan-pelayan tahu” (bdk. Yoh 2:9). Kelihatannya, Tuhan dan berkatNya memang lebih jelas kelihatan di mata “orang-orang dapur”, yang mengutamakan pesta daripada nama diri, yang mengutamakan kebahagiaan orang daripada dirinya sendiri, yang memilih ‘tidak terlihat’ tetapi ‘pesta harus tetap jalan’.  

2.    Apa yang bisa kita renungkan?

a.    Hidup adalah “pesta kita”. Kita menerima dan memperlakukannya sebagai perayaan, terutama karena kasih. Karena itu, rumah dan keluarga adalah pesta, kebersamaan adalah pesta, Gereja adalah pesta, dunia adalah pesta. Ketika rumah, kebersamaan, Gereja dan dunia penuh dengan senyuman, tidak ada yang dikucilkan dan diperlakukan tidak adil atau ditinggalkan, tidak ada yang dikorbankan, semua orang dijamin hak dan kewajibannya, tidak ada yang melukai dan dilukai, itulah pesta kita, pesta yang kita siapkan dan kita perjuangkan dengan hati. Tuhan “diundang” oleh mereka yang mengutamakan “pesta” ini, sebab mereka tahu apa yang paling bisa membahagiakan keluarga, kebersamaan, Gereja dan dunia mereka.

b.    “Kekurangan anggur” adalah keadaan umum semua orang. Kita tidak berpesta dalam hidup karena kesempurnaan, atau menunggu sampai memiliki segala sesuatu. Kita tidak pernah menerima tanggung jawab karena kita sudah kaya atau “super”. Ketika kita mulai mencintai, kita akan membayangkan yang terbaik untuk orang-orang yang kita sayangi. Saat itulah, kita mulai sadar, ada banyak “tong kosong”, dan jalan untuk kebahagiaan itu ternyata lebih terjal dari yang kita kira. Sebaik apa pun dirimu, ketika engkau mulai mengasihi, engkau akan menyadari “anggur pesta saya kurang”.

c.     Ketika “pesta” kita berlangsung, Tuhan datang. BundaNya lebih dulu; ibu yang banyak berdoa itu memang selalu begitu. Tuhan memastikan kebahagiaan kita tidak hilang. IA memastikan, pesta kehidupan kita, yang dengan susah payah kita rajut dengan kasih, tetap berjalan dan menjadi berkat.

d.    Untuk melihat Tuhan, pilih tempatmu baik-baik, sebab jika engkau sibuk menjadi “tuan pesta”, engkau akan mabuk oleh berkat dan gagal melihat Tuhan. Jika engkau “setia di dapur”, setia mencemaskan apapun, mendoakan apapun, dan mengharapkan apapun untuk pesta hidupmu, engkau tahu, dari mana “anggur berkat” itu datang.

3.    Belajarlah mencintai kecemasan, sebab itu mungkin berarti engkau memiliki kasih.

Lublin – Polandia, 19 Januari 2025

Rm. Valerian Karitas, Pr

Imam Diosesan Keuskupan Ruteng

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MENGAPA RASA SYUKUR BISA TIDAK ADA DI HATI?

BERBAHAGIALAH

SUDAH (BARU) 5 TAHUN