ZIARAH


 

1.    Orang-orang Majus berziarah jauh dari Timur untuk bertemu “Raja orang Yahudi yang baru lahir” (Mat 2:2). Mereka berangkat, dan bertemu dengan Herodes dan penduduk Yerusalem, yang diberitakan “terkejut”. Penduduk Yerusalem mungkin saja tidak tahu, meskipun Sang Mesias telah mereka nantikan sejak lama. Herodes tentu saja terkejut, sebab ada raja lain yang berpotensi menggulingkan pemerintahannya. Sepertinya, berita pembebasan dan damai adalah ancaman bagi jenis praktik kekuasaan tertentu, seperti kekuasaan gaya Herodes.

2.    Herodes licik dan jahat sekali. Pada bagian berikut dari perikop injil yang didengar hari ini, kita tahu motif dibalik sikap ‘halus’ Herodes (bdk. pembunuhan anak-anak di Bethlehem: Mat 2:16). Dia mengatur ‘drama’nya dengan luar biasa.

a.     Setelah ‘terkejut’ (seolah-olah sama-sama menanti seperti orang Yahudi kala itu), “maka dikumpulkannya semua imam kepala dan ahli Taurat bangsa Yahudi, lalu dimintanya keterangan dari mereka, di mana Mesias akan dilahirkan.” (Mat 2:4). Niatnya kelihatan seperti ‘membantu menemukan Sang Raja’. Tempat Sang Raja harus jelas, agar harapan yang bangkit dari berita orang-orang Majus ini dapat dibungkam dengan cepat.

b.    Herodes mengutus orang Majus ke Bethlehem dengan dalih "Pergi dan selidikilah dengan seksama hal-hal mengenai Anak itu dan segera sesudah kamu menemukan Dia, kabarkanlah kepadaku supaya akupun datang menyembah Dia." (Mat 2:8). Mereka harus ‘kembali dan melapor’ (jelas kan, niatnya? Bahkan untuk para pelapor ini juga kelihatan jelas) dan ia akan datang ‘menyembah’ Sang Raja.

3.    Berbekal “tanda bintang” dan “petunjuk Herodes”, ziarah para Majus ini berakhir di Bethlehem, di depan TUHAN sendiri. Mereka bersukacita dan mempersembahkan emas, kemenyan dan mur kepada Sang Raja Kristus, Mesias yang tanda kelahiranNya telah mereka lihat. Perjumpaan dengan TUHAN yang telah mereka nantikan adalah sukacita yang amat besar bagi mereka.

4.    Jika kita mengambil posisi berjalan bersama para Majus, puncak dan pusat ziarah iman kita adalah perjumpaan dengan Sang Juruselamat.

a.    Ziarah iman, yang menjadi perjalanan sekaligus pewartaan, tentu saja akan “menggemparkan Yerusalem”, tanda bahwa berita tentang TUHAN tetap menjadi kerinduan dalam diri setiap orang, betapapun ia tidak menunjukkan kepedulian.

b.    Perjumpaan dengan Raja Kristus, ketika berkaca pada sikap tamak dan licik Herodes, adalah puncak ziarah iman yang membebaskan dan mendamaikan. Ancaman sikap ‘halus’ Herodes terhadap Kristus juga adalah ancaman terhadap keluarga kudus, Bethlehem dan seisi Israel, orang-orang Majus, dan kita. Memilih menjumpai Kristus dan menghindari Herodes berarti memilih kebebasan, kesederhanaan, keadilan dan damai.

5.    “Dan karena diperingatkan dalam mimpi, supaya jangan kembali kepada Herodes, maka pulanglah mereka ke negerinya melalui jalan lain” (Mat 2:12). Mereka yang mengakhiri ziarahnya dalam perjumpaan dengan TUHAN tidak akan kembali untuk bersekutu dengan kejahatan yang menghancurkan harapan, termasuk harapan bagi diri mereka sendiri.

Lublin – Polandia, 5 Januari 2025

Rm. Valerian Karitas, Pr

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MENGAPA RASA SYUKUR BISA TIDAK ADA DI HATI?

BERBAHAGIALAH

SUDAH (BARU) 5 TAHUN