SAKSI MATA

 

Luk. 1:1-4, 4:14-21

1.    Para saksi mata dan pemberita Firman (1:2) adalah orang-orang yang kisah perjumpaan dengan Tuhan dan kisah pewartaan tentang Tuhan ditulis oleh penginjil Lukas. Mereka adalah para murid dan rasul, yang berjumpa dan mendengar Tuhan Yesus secara langsung, dan aktif mengajarkan iman akan Kristus saat Lukas menulis Injil.

2.    Tuhan Yesus, dalam kunjungan-Nya ke sinagoge di Nazareth, memberi garis besar tentang bagaimana menjadi “saksi mata” di dalam iman. Ada tiga hal penting yang perlu direnungkan dalam kisah ini:

a.     Tuhan Yesus mengunjungi Nazareth, “tempat IA dibesarkan” (4:16). Mereka tahu banyak tentang Yesus yang menjadi bagian dari mereka sejak masa kecilNya. Dalam iman, kita bisa “tahu banyak” tentang Yesus, menghafal semua ajaran, semua kisah dan mengetahui semua hal tentang ajaran iman kita, tetapi apakah itu cukup untuk menjadi “saksi mata”?

b.    Tuhan Yesus membaca nas dari kitab Yesaya:  "Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang." (4:18-19). Tuhan Yesus dengan tegas memberitakan tempat dan tujuan kehadiran-Nya, sekaligus menjadi tempat dan tujuan kehadiran para “saksi mata” seperti kita. Jadi jika beriman itu tidak disertai dengan posisi keberpihakan yang digariskan dengan jelas oleh Tuhan Yesus sendiri, kemungkinan kita tidak menjadi saksi mata atas karya Tuhan, tapi sedang menenun “karya sendiri” dan menjadi saksi mata atas diri sendiri (atau kepentingan lain).

c.     Yesus mengatakan "Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya." (4:21). Setelah melihat dan mengenal, kita mengambil posisi seperti Kristus. Tetapi posisi itu hanya akan menjadi bermakna, ketika kita, secara terus-menerus, datang dan berjumpa secara langsung dengan Tuhan Yesus.

3.    Nurani yang baik hanya bisa didapat dengan kedekatan tak terpisahkan dengan Tuhan, demikian juga, kedekatan yang asli dengan Tuhan (menjadi saksi mata) ditunjukkan dalam buah keberpihakan terhadap kehidupan. Dua-duanya harus berjalan bersama, tidak boleh timpang.

 

Lublin – Polandia, 26 Januari 2025

Rm. Valerian Karitas, Pr

Imam Diosesan Keuskupan Ruteng

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MENGAPA RASA SYUKUR BISA TIDAK ADA DI HATI?

BERBAHAGIALAH

SUDAH (BARU) 5 TAHUN